Dulu,
dia selalu datang dengan mengendarai motor vespa lamanya. Dia guruku. Dia guru
yang secara tidak langsung mengajariku untuk hidup disiplin, dengan selalu
datang tepat waktu ke sekolah. Dia guru yang mengajarkanku arti kehidupan. Dia
guru yang selalu menyemangatiku untuk “bermimpi” dan menelisik rahasia alam
semesta ini. Dia guru yang menantangku untuk menyelami dunia melalui buku dan
surat kabar. Dia, dia dan dia! Masih banyak hal lagi tentang “dia” yang
memengaruhi derap langkahku dalam mengarungi kehidupan ini.
Dia
orang yang sangat sederhana dan murah senyum. Senyumnya menyiratkan sebuah
kesabaran dan pengabdian yang penuh. Aku merasakan kedamaian saat melihat
senyumnya. Tapi kini, aku sudah tidak bisa melihat senyumannya lagi di dunia
yang nyata. Aku hanya bisa melihat senyumnya di dalam dunia hiper-realitas, di
angan-anganku dan di selembar kertas foto yang masih kusimpan. Ia sudah lama
terlelap bersama dengan cacing-cacing dan belatung yang menemani tidurnya. Ya,
ia pergi dalam usia yang sangat muda, hanya separuh abad saja ia ada dan
berkarya.
Rasa kesedihan, kehilangan, dan kemarahan karena kehilangan dirinya
menyergapku! Aku tidak menyangka dia pergi begitu cepat. Dia pergi setelah tiga
minggu sebelumnya aku mendengar kabar bahwa ia sakit. Ah, rupanya selama ini,
dia menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Dia mengubur rasa sakitnya karena
tidak ingin membebani keluarganya. Ia tahu ia sakit, tapi ia bungkam. Ya, demi
keluarganya ia bertahan dan mengorbankan dirinya. Gajinya mungkin hanya cukup
untuk memberi makan anak istrinya. Ah, aku sungguh marah! Aku bukan marah pada
Tuhan yang telah menjemputnya! Aku marah pada kalian yang membiarkan semua guru
harus hidup segan mati tak hendak dengan gaji yang sangat minim!
Aku tahu, bukan dia saja yang mengalami hal ini di negara yang sangat kucintai
ini. Ada banyak guru-guru lain yang juga mengalami penderitaan seperti dia. Ada
banyak guru yang terpaksa harus menghidupi keluarganya hanya dengan gaji yang
mencekik leher. Tapi, apakah hal ini harus terus berlanjut? Haruskah ada lebih
banyak guru yang menjadi “martir” di tengah-tengah pengabdiannya pada ibu
pertiwi?
Saat ini, aku berdiri lagi di depan peristirahatan terakhirnya untuk berziarah.
Tidak terasa, ia sudah pergi tujuh tahun lamanya. Mataku tertuju pada batu
nisannya, namun pikiranku melayang, terbang menembus dimensi waktu. Aku
terlarut dalam sebuah kenangan tentang guruku di masa yang lebih lampau lagi.
Aku mengingat pelajaran yang diberikannya kepada kami, dua bulan sebelum
kepergiannya.
“Oscar
Romero! Siapa yang tahu siapa dia?” tanyanya kepada kami, muridnya. Semua siswa
memandang kepadanya dengan tatapan antusias, tapi tidak satu pun yang tahu
siapa itu Oscar Romero. “Romero adalah orang yang sangat vokal dalam
menyuarakan hak orang miskin dan menentang penindasan yang terjadi pada
zamannya. Uskup dari El Savador ini, mengajak gereja untuk bangun dari mimpinya
dan bergumul bersama-sama dengan orang yang tertindas.” teriaknya dengan penuh
semangat. “Pak, adakah buah pemikiran Romero yang sempat membuat dunia
gemetar?” tanya seorang temanku. “Oh, tentu ada!”, sahutnya. Dia langsung
mengambil sebatang kapur tulis dan menggoreskan beberapa kalimat yang menjadi
buah pemikiran Romero di atas papan tulis.
“Banyak orang yang tertindas dan mengalami
penindasan sistemik dari pihak yang berkuasa. Banyak penguasa yang bersikap
tidak adil. Para penguasa bahkan rela menjual orang miskin demi sepasang
alas kaki. Pengadilan pun tidak bertaring dan tidak memberikan jawaban atas
penindasan yang mereka alami. Gereja harus berani berjuang bagi mereka yang
tertindas, walaupun karena itu gereja harus siap mengalami penganiayaan.Sama
seperti Yesus, dia juga dianiaya karena membela orang yang
tertindas.” - Oscar Romero –
Setelah
menggoreskan kapurnya, ia berbalik ke arah kami dan berkata “Pandanglah ke
sekelilingmu, dan renungkanlah buah pemikirannya itu! Jadikanlah pemikirannya
sebagai pecut yang mencambukmu untuk peka terhadap segala hal yang terjadi di
bumi pertiwi ini.”
Kicauan
burung gagak membuyarkan lamunanku. Aku tercambuk oleh hal yang pernah
disampaikan guruku tentang Romero. Ah, rupa-rupanya guruku secara tidak
langsung menjadi korban penindasan para pemilik yayasan pendidikkan! Tenaga dan
pikiran para pahlawan tanpa tanda jasa itu diperas, tapi mereka tidak diberi
'makan’ selayaknya!
Mereka
mungkin menjerit dan merintih atas kondisinya, Tapi, apakah teriakan itu terus
didengar? Aku ragu! Janji perbaikan mungkin diberikan, namun realisasi sukar
untuk diwujudkan. Realisasi hanya menjadi sebuah kata bualan milik “penguasa”,
yang berada dalam ranah mimpi. Kata itu menjadi suatu kata indah tanpa wujud.
Tapi
tunggu! Keragu-raguanku ini bukan ingin menunjukkan bahwa aku adalah seorang
yang skeptis. Dalam keragu-raguanku ini, aku justru merasa terangsang. Aku
terangsang untuk turut berjuang bersama-sama dengan para pahlawan tanpa tanda
jasa ini untuk menyuarakan suara mereka kepada para penguasa yang memiliki
yayasan pendidikan. Guruku, deritamu juga adalah deritaku.
Wahai
gereja-gereja Indonesia, di manakah sengatmu? Di manakah suaramu dalam
dunia yang dipenuhi ketidak-adilan dan penindasan ini? Sudahkah engkau
menyuarakan suara kenabian untuk yayasan pendidikan yang menindas dan
menghimpit para guru dalam lubang kesengsaraan? Apakah spirit pelayanan sudah
dihembuskan gereja kepada yayasan pendidikan itu? Sudahkah engkau
mengikuti teladan Kristus yang berjuang dan menderita bersama-sama dengan
rakyat marjinal? Sudahkah oh sudahkah? Semoga saja teriakan gereja tak menjadi
teriakan yang berlalu, tanpa dampak.
Tulisan
lawas dengan gubahan
untuk
mengenang almarhum guruku
untuk
menampar setiap yayasan pendidikan
yang
meraup uang untuk dirinya sendiri,
namun
melupakan denyut nadi pelayanan
serta
menjadikan guru sebagai alas kaki.
Emsiseyar
emsiseyar...
BalasHapusvery inspiring, for me :D
thank you for sharing...
sebagai anak Umar bakri,aq tergugah..
BalasHapusMakasih yo komennya. Terus terang sich ini berangkat dari kegeraman melihat yayasan pendidikan yang berbasis agama namun tidak menunjukkan konsep pelayanan yang sesungguhnya. Yeah, bisa saja ini disebut asumsi. Atau sebutlah ini sebagai riak-riak subaltern.
BalasHapusemsiseyar