Kamis, 06 September 2012

INGAT DAN BERJUANGLAH UNTUK DIA: PAHLAWAN TANPA TANDA JASA


Dulu, dia selalu datang dengan mengendarai motor vespa lamanya. Dia guruku. Dia guru yang secara tidak langsung mengajariku untuk hidup disiplin, dengan selalu datang tepat waktu ke sekolah. Dia guru yang mengajarkanku arti kehidupan. Dia guru yang selalu menyemangatiku untuk “bermimpi” dan menelisik rahasia alam semesta ini. Dia guru yang menantangku untuk menyelami dunia melalui buku dan surat kabar. Dia, dia dan dia! Masih banyak hal lagi tentang “dia” yang memengaruhi derap langkahku dalam mengarungi kehidupan ini.
Dia orang yang sangat sederhana dan murah senyum. Senyumnya menyiratkan sebuah kesabaran dan pengabdian yang penuh. Aku merasakan kedamaian saat melihat senyumnya. Tapi kini, aku sudah tidak bisa melihat senyumannya lagi di dunia yang nyata. Aku hanya bisa melihat senyumnya di dalam dunia hiper-realitas, di angan-anganku dan di selembar kertas foto yang masih kusimpan. Ia sudah lama terlelap bersama dengan cacing-cacing dan belatung yang menemani tidurnya. Ya, ia pergi dalam usia yang sangat muda, hanya separuh abad saja ia ada dan berkarya.
            Rasa kesedihan, kehilangan, dan kemarahan karena kehilangan dirinya menyergapku! Aku tidak menyangka dia pergi begitu cepat. Dia pergi setelah tiga minggu sebelumnya aku mendengar kabar bahwa ia sakit. Ah, rupanya selama ini, dia menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Dia mengubur rasa sakitnya karena tidak ingin membebani keluarganya. Ia tahu ia sakit, tapi ia bungkam. Ya, demi keluarganya ia bertahan dan mengorbankan dirinya. Gajinya mungkin hanya cukup untuk memberi makan anak istrinya. Ah, aku sungguh marah! Aku bukan marah pada Tuhan yang telah menjemputnya! Aku marah pada kalian yang membiarkan semua guru harus hidup segan mati tak hendak dengan gaji yang sangat minim!
            Aku tahu, bukan dia saja yang mengalami hal ini di negara yang sangat kucintai ini. Ada banyak guru-guru lain yang juga mengalami penderitaan seperti dia. Ada banyak guru yang terpaksa harus menghidupi keluarganya hanya dengan gaji yang mencekik leher. Tapi, apakah hal ini harus terus berlanjut? Haruskah ada lebih banyak guru yang menjadi “martir” di tengah-tengah pengabdiannya pada ibu pertiwi?
            Saat ini, aku berdiri lagi di depan peristirahatan terakhirnya untuk berziarah. Tidak terasa, ia sudah pergi tujuh tahun lamanya. Mataku tertuju pada batu nisannya, namun pikiranku melayang, terbang menembus dimensi waktu. Aku terlarut dalam sebuah kenangan tentang guruku di masa yang lebih lampau lagi. Aku mengingat pelajaran yang diberikannya kepada kami, dua bulan sebelum kepergiannya.
 “Oscar Romero! Siapa yang tahu siapa dia?” tanyanya kepada kami, muridnya. Semua siswa memandang kepadanya dengan tatapan antusias, tapi tidak satu pun yang tahu siapa itu Oscar Romero. “Romero adalah orang yang sangat vokal dalam menyuarakan hak orang miskin dan menentang penindasan yang terjadi pada zamannya. Uskup dari El Savador ini, mengajak gereja untuk bangun dari mimpinya dan bergumul bersama-sama dengan orang yang tertindas.” teriaknya dengan penuh semangat. “Pak, adakah buah pemikiran Romero yang sempat membuat dunia gemetar?” tanya seorang temanku. “Oh, tentu ada!”, sahutnya. Dia langsung mengambil sebatang kapur tulis dan menggoreskan beberapa kalimat yang menjadi buah pemikiran Romero di atas papan tulis.

 “Banyak orang yang tertindas dan mengalami penindasan sistemik dari pihak yang berkuasa. Banyak penguasa yang bersikap tidak adil.  Para penguasa bahkan rela menjual orang miskin demi sepasang alas kaki. Pengadilan pun tidak bertaring dan tidak memberikan jawaban atas penindasan yang mereka alami. Gereja harus berani berjuang bagi mereka yang tertindas, walaupun karena itu gereja harus siap mengalami penganiayaan.Sama seperti Yesus, dia juga dianiaya karena membela orang yang tertindas.”     - Oscar Romero –

Setelah menggoreskan kapurnya, ia berbalik ke arah kami dan berkata “Pandanglah ke sekelilingmu, dan renungkanlah buah pemikirannya itu! Jadikanlah pemikirannya sebagai pecut yang mencambukmu untuk peka terhadap segala hal yang terjadi di bumi pertiwi ini.”
Kicauan burung gagak membuyarkan lamunanku. Aku tercambuk oleh hal yang pernah disampaikan guruku tentang Romero. Ah, rupa-rupanya guruku secara tidak langsung menjadi korban penindasan para pemilik yayasan pendidikkan! Tenaga dan pikiran para pahlawan tanpa tanda jasa itu diperas, tapi mereka tidak diberi 'makan’ selayaknya!
Mereka mungkin menjerit dan merintih atas kondisinya, Tapi, apakah teriakan itu terus didengar? Aku ragu! Janji perbaikan mungkin diberikan, namun realisasi sukar untuk diwujudkan. Realisasi hanya menjadi sebuah kata bualan milik “penguasa”, yang berada dalam ranah mimpi. Kata itu menjadi suatu kata indah tanpa wujud.
Tapi tunggu! Keragu-raguanku ini bukan ingin menunjukkan bahwa aku adalah seorang yang skeptis. Dalam keragu-raguanku ini, aku justru merasa terangsang. Aku terangsang untuk turut berjuang bersama-sama dengan para pahlawan tanpa tanda jasa ini untuk menyuarakan suara mereka kepada para penguasa yang memiliki yayasan pendidikan. Guruku, deritamu juga adalah deritaku.
Wahai gereja-gereja Indonesia, di manakah sengatmu?  Di manakah suaramu dalam dunia yang dipenuhi ketidak-adilan dan penindasan ini? Sudahkah engkau menyuarakan suara kenabian untuk yayasan pendidikan yang menindas dan menghimpit para guru dalam lubang kesengsaraan? Apakah spirit pelayanan sudah dihembuskan gereja kepada yayasan pendidikan itu?  Sudahkah engkau mengikuti teladan Kristus yang berjuang dan menderita bersama-sama dengan rakyat marjinal? Sudahkah oh sudahkah? Semoga saja teriakan gereja tak menjadi teriakan yang berlalu, tanpa dampak.

Tulisan lawas dengan gubahan
untuk mengenang almarhum guruku
untuk menampar setiap yayasan pendidikan 
yang meraup uang untuk dirinya sendiri,
namun melupakan denyut nadi pelayanan
serta menjadikan guru sebagai alas kaki.

Emsiseyar


3 komentar:

  1. emsiseyar...
    very inspiring, for me :D
    thank you for sharing...

    BalasHapus
  2. Makasih yo komennya. Terus terang sich ini berangkat dari kegeraman melihat yayasan pendidikan yang berbasis agama namun tidak menunjukkan konsep pelayanan yang sesungguhnya. Yeah, bisa saja ini disebut asumsi. Atau sebutlah ini sebagai riak-riak subaltern.

    emsiseyar

    BalasHapus