“DISCERNMENT”
Sebuah
Pengalaman Pribadi1
The place God calls you to is
the
place where your deep gladness and the world’s deep
hunger meet.
hunger meet.
—Frederick
Buechner2
Ketika sahabat saya, Iswanto, menelpon saya dan meminta agar saya menyumbang sebuah tulisan, saya terkejut dan bingung. Saya bertanya-tanya,”Saya harus menulis tentang apa ya?”. Lalu saya terpikir tentang sebuah kata yang telah beberapa kali dikatakannya kepada saya, “Discernment”. Tidak jelas apakah ia mengucapkan kata tersebut sebagai pernyataan atau pertanyaan. Itulah salah satu ciri Pak Is, kadang suka ‘gak jelas. Dalam hal ini kami berdua berada pada satu garis yang sama: sama-sama suka ‘gak jelas.
Bicara
tentang ketidak-jelasan, saya kira dari waktu ke waktu kita mengalami
situasi-situasi yang “tidak jelas” dan membingungkan di dalam
hidup ini. Kita seakan-akan berada di persimpangan dan dihadapkan
pada berbagai pilihan hidup. Pada saat itu, dengan segala
keterbatasan yang ada kita harus mengambil keputusan dan membuat
pilihan hidup dengan sungguh-sungguh. Persis pada titik inilah
discernment diperlukan.
Menurut Cambridge
Advance Learners Dictionary, “discernment” adalah
“the ability to judge
people and things well”—kemampuan
untuk menilai orang atau sesuatu dengan baik.
“To discern” berarti
“to see, recognize or
understand something that is not clear.”—melihat,
mengenali atau memahami sesuatu yang tidak jelas. Dengan demikian,
proses discernment
dapat dibandingkan
dengan seni pengambilan keputusan (the
art of making a decision)
atau seni memilih (the
art of choosing).
Sebagaimana yang tampak dalam buku Latihan
Rohani karya St.
Ignasius Loyola, proses discernment
merupakan salah satu
unsur penting dalam dinamika hidup beriman/spiritualitas. Secara
khusus, proses discernment
terkait erat dengan
pencarian dan pengenalan akan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Jadi,
dengan menjalani proses discernment
kita ingin mengambil
keputusan dan membuat pilihan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tentu
menarik untuk membahas lebih lanjut bagaimana proses discernment
itu dipahami dalam
tradisi teologis Kristen. Namun saya sadar betul bahwa bukanlah
kapasitas saya untuk membahas pokok tersebut di sini. Karena itu,
yang ingin saya lakukan adalah sekedar memaparkan pemahaman dan
pengalaman pribadi saya dalam menjalani proses discernment.
Ketika baru lulus dari kuliah teologi, saya masih bergumul dengan pertanyaan: “Apakah saya sungguh ingin menjadi pendeta?”. Sebenarnya, saya sudah mulai menggumuli pertanyaan ini sejak saya menjalani pra-stage (semester 3). Mungkin bagi sebagian orang hal ini terasa ‘aneh’. Kok, baru menggumuli keinginan jadi pendeta setelah masuk fakultas Teologi? Tetapi bagi saya, belajar Teologi tidak otomatis sama dengan belajar untuk menjadi pendeta.
Dari waktu ke waktu saya men-share-kan pergumulan saya ini kepada orang-orang yang saya percaya. Saya menimbang-nimbang dan saya juga berusaha meyakinkan diri saya untuk berani mengambil keputusan dan membuat pilihan. Meskipun begitu, ketika saya lulus kuliah Teologi tetap saja saya merasa belum mantap dan masih ragu. Beberapa teman mencoba menghibur dengan mengatakan, “Sudahlah. Jalani saja. Mana ada orang yang merasa mantap dan yakin 100 persen ketika mengambil keputusan?”. Saya sudah mencoba melakukan hal itu, tetapi entah mengapa hati saya malah tambah cemas dan gelisah. Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa saya perlu mengambil waktu khusus untuk memikirkan dan merenungkan semuanya ini. Singkat cerita, saya lalu mendapatkan kesempatan mengunjungi Komunitas Taizé di Prancis untuk menjadi relawan yang membantu pertemuan kaum muda internasional sekaligus menjalani spiritual formation.
Saya
berada di Taizé selama 20
bulan dan selama itu pula saya merenungkan pertanyaan yang sederhana
dan sama, “Apakah saya sungguh ingin menjadi pendeta?”. Kalau
“Ya”, mengapa? Kalau “Tidak”, mengapa? Setiap kali saya
mencoba menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu saja merasa tidak
puas dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Di sisi lain, saya
juga semakin memahami bahwa “panggilan
hidup” itu bukanlah sekedar idealisme.
Orang yang mengikuti panggilan hidupnya mungkin adalah seorang yang
idealis, tetapi ia tidak berhenti pada idealisme tertentu. Mungkin
hal ini tampaknya berlebihan. Kadang saya berkata kepada diri saya
sendiri, “Sudah. Dicoba dulu jadi pendeta. Nanti kalau ternyata
tidak cocok, kamu berhenti saja dan mencari profesi lain.” Tetapi
apa iya
semudah itu? Entah mengapa bagi saya hal ini malah terasa cukup
kompleks. Apakah itu dikarenakan saya takut mengambil resiko dari
sebuah keputusan dan pilihan? Atau jangan-jangan memang dari
sono-nya saya ini
orang yang ‘gak
jelas. Bisa jadi
demikian. Yang jelas, saya hanya ingin jujur dengan fakta ini: bahwa
berhadapan dengan pertanyaan yang sederhana tersebut, hati saya masih
saja cemas dan gelisah. Rasa-rasanya kecemasan dan kegelisahan itu
hanya akan berakhir ketika jiwa saya dapat “bersandar” dengan
tenteram di dalam Tuhan. Saya bersyukur karena dinamika dan ritme
hidup di Taizé yang berpusat pada doa, serta ditambah dengan
pengalaman berbagi pergumulan dengan beberapa teman dari
negara-negara lain sungguh mendukung proses discernment
saya. Mereka menolong
saya untuk menyikapi pertanyaan ini secara arif, dengan pikiran yang
jernih, dengan hati yang hening dan batin yang bening.
Saya
menemukan bahwa ketika berulang kali saya dihadapkan pada pertanyaan
yang sama, sesungguhnya pada saat itu sedang terjadi proses
pemurnian diri (katarsis).
Yang penting dalam hal ini adalah kejujuran pada diri sendiri,
kejujuran di hadapan hati nurani dan di hadapan Tuhan yang mahatahu.
Entah bagaimana, kemudian saya merasa telah menemukan “jawaban”
atas pergumulan saya. Mungkin “jawaban” tersebut tidak seperti
yang saya bayangkan semula—sebuah jawaban yang canggih dan
sempurna. Bukan itu. ”Jawaban” yang saya temukan lebih merupakan
sebentuk keyakinan yang masih memiliki bayang-bayang keraguan.
Keyakinan tersebut hanya disertai dengan alasan yang sederhana bahkan
rapuh. Namun, saya semakin menyadari bahwa alasan-alasan bukanlah
sesuatu yang esensial bagi keyakinan tersebut. Keyakinan
tersebut lebih didasarkan pada iman yang sederhana (a
simple trust),
suatu penyerahan diri kepada Tuhan.
Saya membayangkan ketika Tuhan Yesus beberapa kali mengajukan
pertanyaan yang sama kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?”,
itu tidak lain untuk memurnikan Petrus. Jawaban-jawaban yang
diberikan Petrus perlahan-lahan ditransformasikan,
dari sebuah jawaban yang penuh percaya diri (self-confidence)
menjadi sebuah jawaban yang penuh penyerahan diri (self-surrender).
Dari mengatakan dengan mantap, “Benar, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku
mengasihi Engkau.”, menjadi sebuah pengakuan yang rendah hati,
“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi
Engkau.”
Demikianlah
pemahaman dan pengalaman saya dalam menjalani proses discernment.
Saya tidak mengatakan bahwa untuk menjalani proses discernment
kita harus pergi ke Taizé. Yang ingin saya katakan adalah: untuk
menjalani proses discernment
kita harus berani menyediakan waktu
khusus yang disertai dengan doa yang intensif.
Waktu khusus tersebut tidak mesti berarti liburan panjang. Wujudnya
bisa dalam bentuk menyediakan waktu satu jam setiap hari atau sekali
dalam seminggu untuk memikirkan dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan
yang muncul di dalam hati. Karena hal ini merupakan sebuah proses,
maka diperlukan kesabaran dan ketekunan. Selain itu, keberadaan
seorang pembimbing rohani tentu juga akan membantu kita dalam proses
discernment
tersebut.
Selamat
kepada Pak Is. Semoga
menjadi seorang pendeta yang baik dan setia mengikuti teladan Sang
Gembala Agung. (rrb)
------------------------------------
1
Tulisan ini disusun sebagai tanda kasih untuk Iswanto di hari
penahbisannya sebagai pendeta GKI dengan basis pelayanan di jemaat
GKI Pengampon, Cirebon.
2
Frederick Buechner, Wishful
Thinking: A Seeker’s ABC (San
Francisco: HarperSanFrancisco, 1993), 119.
proses menjawab panggilan tidak semudah mengatakan "Ya". Dalam proses itu, selalu ada bayang-bayang keraguan karena keterbatasan kita untuk menerawang masa depan.
BalasHapusSeperti Musa, ada ketakutan untuk menjawab "Ya" karena ia tidak tahu hamparan kenyataan yang akan ia lalui (atau bahkan ia mungkin sudah membayangkan betapa sulitnya menerima panggilan itu). Dalam perjalanan panggilannya, rasanya Musa tidak secara eksplisit mengatakan bahwa ia bersedia. Namun, ia menjalaninya. Maka seperti spiritualitas yang ditunjukkan oleh Musa dalam 40 tahun terakhir hidupnya, Musa tidak berkata "Aku bisa karena diriku.". Yang ia katakan adalah, "Aku bisa melaluinya bersama dengan Tuhan." (alinea ini terinspirasi dari tulisan Pak Andar dalam salah satu buku seri selamatnya.)
Anyway, thanks for reminding us to have a time for praying and struggling in God.
selamat bergumul dalam berbagai macam panggilan yang berbeda.