Rabu, 12 September 2012

DISCERNMENT”
Sebuah Pengalaman Pribadi1



The place God calls you to is

the place where your deep gladness and the world’s deep 

hunger meet.
Frederick Buechner2






Ketika sahabat saya, Iswanto, menelpon saya dan meminta agar saya menyumbang sebuah tulisan, saya terkejut dan bingung. Saya bertanya-tanya,”Saya harus menulis tentang apa ya?”. Lalu saya terpikir tentang sebuah kata yang telah beberapa kali dikatakannya kepada saya, “Discernment”. Tidak jelas apakah ia mengucapkan kata tersebut sebagai pernyataan atau pertanyaan. Itulah salah satu ciri Pak Is, kadang suka ‘gak jelas. Dalam hal ini kami berdua berada pada satu garis yang sama: sama-sama suka ‘gak jelas.

Bicara tentang ketidak-jelasan, saya kira dari waktu ke waktu kita mengalami situasi-situasi yang “tidak jelas” dan membingungkan di dalam hidup ini. Kita seakan-akan berada di persimpangan dan dihadapkan pada berbagai pilihan hidup. Pada saat itu, dengan segala keterbatasan yang ada kita harus mengambil keputusan dan membuat pilihan hidup dengan sungguh-sungguh. Persis pada titik inilah discernment diperlukan. Menurut Cambridge Advance Learners Dictionary, “discernment” adalah “the ability to judge people and things well”—kemampuan untuk menilai orang atau sesuatu dengan baik. “To discern” berarti “to see, recognize or understand something that is not clear.”—melihat, mengenali atau memahami sesuatu yang tidak jelas. Dengan demikian, proses discernment dapat dibandingkan dengan seni pengambilan keputusan (the art of making a decision) atau seni memilih (the art of choosing). Sebagaimana yang tampak dalam buku Latihan Rohani karya St. Ignasius Loyola, proses discernment merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika hidup beriman/spiritualitas. Secara khusus, proses discernment terkait erat dengan pencarian dan pengenalan akan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Jadi, dengan menjalani proses discernment kita ingin mengambil keputusan dan membuat pilihan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tentu menarik untuk membahas lebih lanjut bagaimana proses discernment itu dipahami dalam tradisi teologis Kristen. Namun saya sadar betul bahwa bukanlah kapasitas saya untuk membahas pokok tersebut di sini. Karena itu, yang ingin saya lakukan adalah sekedar memaparkan pemahaman dan pengalaman pribadi saya dalam menjalani proses discernment.

Ketika baru lulus dari kuliah teologi, saya masih bergumul dengan pertanyaan: “Apakah saya sungguh ingin menjadi pendeta?”. Sebenarnya, saya sudah mulai menggumuli pertanyaan ini sejak saya menjalani pra-stage (semester 3). Mungkin bagi sebagian orang hal ini terasa ‘aneh’. Kok, baru menggumuli keinginan jadi pendeta setelah masuk fakultas Teologi? Tetapi bagi saya, belajar Teologi tidak otomatis sama dengan belajar untuk menjadi pendeta.

Dari waktu ke waktu saya men-share-kan pergumulan saya ini kepada orang-orang yang saya percaya. Saya menimbang-nimbang dan saya juga berusaha meyakinkan diri saya untuk berani mengambil keputusan dan membuat pilihan. Meskipun begitu, ketika saya lulus kuliah Teologi tetap saja saya merasa belum mantap dan masih ragu. Beberapa teman mencoba menghibur dengan mengatakan, “Sudahlah. Jalani saja. Mana ada orang yang merasa mantap dan yakin 100 persen ketika mengambil keputusan?”. Saya sudah mencoba melakukan hal itu, tetapi entah mengapa hati saya malah tambah cemas dan gelisah. Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa saya perlu mengambil waktu khusus untuk memikirkan dan merenungkan semuanya ini. Singkat cerita, saya lalu mendapatkan kesempatan mengunjungi Komunitas Taizé di Prancis untuk menjadi relawan yang membantu pertemuan kaum muda internasional sekaligus menjalani spiritual formation.

Saya berada di Taizé selama 20 bulan dan selama itu pula saya merenungkan pertanyaan yang sederhana dan sama, “Apakah saya sungguh ingin menjadi pendeta?”. Kalau “Ya”, mengapa? Kalau “Tidak”, mengapa? Setiap kali saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut, saya selalu saja merasa tidak puas dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Di sisi lain, saya juga semakin memahami bahwa “panggilan hidup” itu bukanlah sekedar idealisme. Orang yang mengikuti panggilan hidupnya mungkin adalah seorang yang idealis, tetapi ia tidak berhenti pada idealisme tertentu. Mungkin hal ini tampaknya berlebihan. Kadang saya berkata kepada diri saya sendiri, “Sudah. Dicoba dulu jadi pendeta. Nanti kalau ternyata tidak cocok, kamu berhenti saja dan mencari profesi lain.” Tetapi apa iya semudah itu? Entah mengapa bagi saya hal ini malah terasa cukup kompleks. Apakah itu dikarenakan saya takut mengambil resiko dari sebuah keputusan dan pilihan? Atau jangan-jangan memang dari sono-nya saya ini orang yang ‘gak jelas. Bisa jadi demikian. Yang jelas, saya hanya ingin jujur dengan fakta ini: bahwa berhadapan dengan pertanyaan yang sederhana tersebut, hati saya masih saja cemas dan gelisah. Rasa-rasanya kecemasan dan kegelisahan itu hanya akan berakhir ketika jiwa saya dapat “bersandar” dengan tenteram di dalam Tuhan. Saya bersyukur karena dinamika dan ritme hidup di Taizé yang berpusat pada doa, serta ditambah dengan pengalaman berbagi pergumulan dengan beberapa teman dari negara-negara lain sungguh mendukung proses discernment saya. Mereka menolong saya untuk menyikapi pertanyaan ini secara arif, dengan pikiran yang jernih, dengan hati yang hening dan batin yang bening.

Saya menemukan bahwa ketika berulang kali saya dihadapkan pada pertanyaan yang sama, sesungguhnya pada saat itu sedang terjadi proses pemurnian diri (katarsis). Yang penting dalam hal ini adalah kejujuran pada diri sendiri, kejujuran di hadapan hati nurani dan di hadapan Tuhan yang mahatahu. Entah bagaimana, kemudian saya merasa telah menemukan “jawaban” atas pergumulan saya. Mungkin “jawaban” tersebut tidak seperti yang saya bayangkan semula—sebuah jawaban yang canggih dan sempurna. Bukan itu. ”Jawaban” yang saya temukan lebih merupakan sebentuk keyakinan yang masih memiliki bayang-bayang keraguan. Keyakinan tersebut hanya disertai dengan alasan yang sederhana bahkan rapuh. Namun, saya semakin menyadari bahwa alasan-alasan bukanlah sesuatu yang esensial bagi keyakinan tersebut. Keyakinan tersebut lebih didasarkan pada iman yang sederhana (a simple trust), suatu penyerahan diri kepada Tuhan. Saya membayangkan ketika Tuhan Yesus beberapa kali mengajukan pertanyaan yang sama kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, itu tidak lain untuk memurnikan Petrus. Jawaban-jawaban yang diberikan Petrus perlahan-lahan ditransformasikan, dari sebuah jawaban yang penuh percaya diri (self-confidence) menjadi sebuah jawaban yang penuh penyerahan diri (self-surrender). Dari mengatakan dengan mantap, “Benar, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”, menjadi sebuah pengakuan yang rendah hati, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Demikianlah pemahaman dan pengalaman saya dalam menjalani proses discernment. Saya tidak mengatakan bahwa untuk menjalani proses discernment kita harus pergi ke Taizé. Yang ingin saya katakan adalah: untuk menjalani proses discernment kita harus berani menyediakan waktu khusus yang disertai dengan doa yang intensif. Waktu khusus tersebut tidak mesti berarti liburan panjang. Wujudnya bisa dalam bentuk menyediakan waktu satu jam setiap hari atau sekali dalam seminggu untuk memikirkan dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam hati. Karena hal ini merupakan sebuah proses, maka diperlukan kesabaran dan ketekunan. Selain itu, keberadaan seorang pembimbing rohani tentu juga akan membantu kita dalam proses discernment tersebut.

Selamat kepada Pak Is. Semoga menjadi seorang pendeta yang baik dan setia mengikuti teladan Sang Gembala Agung. (rrb)

------------------------------------ 
1 Tulisan ini disusun sebagai tanda kasih untuk Iswanto di hari penahbisannya sebagai pendeta GKI dengan basis pelayanan di jemaat GKI Pengampon, Cirebon.
2 Frederick Buechner, Wishful Thinking: A Seeker’s ABC (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1993), 119.

1 komentar:

  1. proses menjawab panggilan tidak semudah mengatakan "Ya". Dalam proses itu, selalu ada bayang-bayang keraguan karena keterbatasan kita untuk menerawang masa depan.

    Seperti Musa, ada ketakutan untuk menjawab "Ya" karena ia tidak tahu hamparan kenyataan yang akan ia lalui (atau bahkan ia mungkin sudah membayangkan betapa sulitnya menerima panggilan itu). Dalam perjalanan panggilannya, rasanya Musa tidak secara eksplisit mengatakan bahwa ia bersedia. Namun, ia menjalaninya. Maka seperti spiritualitas yang ditunjukkan oleh Musa dalam 40 tahun terakhir hidupnya, Musa tidak berkata "Aku bisa karena diriku.". Yang ia katakan adalah, "Aku bisa melaluinya bersama dengan Tuhan." (alinea ini terinspirasi dari tulisan Pak Andar dalam salah satu buku seri selamatnya.)

    Anyway, thanks for reminding us to have a time for praying and struggling in God.

    selamat bergumul dalam berbagai macam panggilan yang berbeda.

    BalasHapus