Minggu, 27 Januari 2013

LEBIH DARI EMAS 比金可贵



Daud mengatakan bahwa Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa, memberikan hikmat, menyukakan hati, membuat mata bercahaya, lebih indah daripada emas, lebih manis daripada madu (baca Mazmur 19.8-12). Apakah sebagian besar orang Kristen menyakini kebenaran tersebut? Jika ya, mengapa pada umumnya, orang Kristen tidak mempelajari firman TUHAN sendiri melainkan lebih memilih untuk menyerahkannya kepada para professional untuk menjelaskannya bagi mereka? Apakah karena takut menghadapi diri sendiri di saat membaca Alkitab? Di sisi lain, setiap orang membaca Alkitab dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang membaca Alkitab demi tantangan intelektual, melakukan riset dan mendalami Alkitab. Ada juga yang membaca Alkitab demi hal-hal praktis seperti untuk memperoleh petunjuk untuk hidup sehat, menjadi kaya dan berhasil. Ada juga yang membaca Alkitab demi inspirasi sebab Alkitab mengandung inspirasi yang sangat kaya. Yang pasti, membaca Alkitab bukan untuk mengumpulkan informasi atau menambah pengetahuan. Juga bukan untuk menguasai Alkitab, menjadi ahli Alkitab atau mempunyai diploma atau master Alkitab melainkan untuk membaca secara partisipatif untuk melihat ke dalam kehidupan interior kita melalui interaksi dengan Sang Pengwahyu Alkitab yaitu TUHAN Sendiri.

Ketika TUHAN memilih untuk menggunakan “penulisan” untuk mengkomunikasikan firman-Nya, Ia sedang mengambil resiko. Bahasa selalu melekat atau tertanam pada budaya. Saya sering mendengar orang Tionghoa yang meresponi ucapan 谢谢 (baca xie xie) dengan kata 不用谢 (baca bu yong xie) artinya tidak perlu mengucapkan terima kasih atau terima kasihnya ditolak. Orang Indonesia sering meresponi ucapan “terima kasih” dengan “sama-sama” atau “kembali”. Artinya terima kasihnya tidak diperlukan tetapi di kembalikan kepada pemberi ucapan terima kasih. Budaya Barat agak berbeda, ucapan “thank you” dibalas dengan “you are welcome”, ucapan terima kasihmu diterima dengan baik. Begitu juga dengan budaya Jepang, “Arigato gozaimasu” (terima kasih banyak) direspon dengan “dou itashimashite” (ini kesenangan saya).
 
Pernahkah Anda berpikir mengenai etimologi kata “sate” dan “tahu”? Dalam bahasa hokkien sate (sha teh) mengandung arti “tiga potong” sebab sate terdiri dari tiga potong daging sehingga disebut (sha teh – tiga potong). Sedangkan “tahu” (bahasa Tiochiu tao hu), tao berarti kacang dan hu berarti “busuk” / “fermentasi”. Pada masa kecil saya sering mendengarkan orang mengatakan “balikut” kepada anak-anak nakal yang terjatuh atau mainan mereka rusak. Akhirnya saya baru sadar ternyata yang dimaksud dengan “balikut” adalah “very good”. Pernah ketika saya naik bus bersama dengan teman saya dari Puncak menuju Bandung, di tengah perjalanan ada seorang anak muda naik ke atas bus dan berjualan buah salak. Ia berbicara panjang lebar memperkenalkan buah salaknya dalam bahasa Sunda. Saya hanya mendengar kata “salak”, “manis”, “Garut”, “murah” dan sisanya asing bagi saya. Saya kira anak muda ini sedang memperkenalkan salak dari Garut dengan panjang lebar dan setelah saya tanyakan kepada teman saya yang mengerti bahasa Sunda baru saya sadar bahwa ternyata anak muda tersebut bukan sedang mempromosi buah salak dari Garut melainkan sedang memarah-marahi penumpang karena tidak ada yang mau membeli buah salaknya. Karena tidak mengerti bahasanya, saya jadi salah memahami. TUHAN tidak menggunakan bahasa sorgawi untuk berkomunikasi dengan manusia melainkan Ia memilih untuk menggunakan bahasa yang dimengerti oleh manusia namun dengan demikian Ia harus menghadapi resiko salah interpretasi. Jika mau aman, TUHAN bisa menggunakan ilmu pasti seperti rumus aljabar, algoritma atau rumus perkalian untuk berkomunikasi namun rumus matematika tidak dapat menyampaikan pesan tentang kasih TUHAN bagi umat manusia.

Pepatah bahasa Inggris mengatakan, “one man’s tool is another man’s weapon” (alat di tangan seseorang dapat menjadi senjata di tangan orang lain). Kalimat ini juga muncul dalam film The Dark Knight Rises oleh Bruce Wayne. Setiap orang membaca Alkitab dengan praduga masing-masing. Seorang ilmuwan cenderung membaca Alkitab dengan sudut pandang ilmiah sedangkan seorang ahli sejarah akan memperhatikan berbagai unsur sejarah dalam Alkitab. Seorang ahli komputer mungkin akan membaca Alkitab dari sudut pandang komputerisasi. Diakui atau tidak, setiap kita mulai dengan sebuah “praduga”. Jadi, tidak heran ketika para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sangat menguasai kitab Taurat menolak dan bahkan hendak membunuh Yesus. Oleh sebab itu, seseorang dapat membaca Alkitab dan menjadi semakin rohani sedangkan yang lainnya menjadi semakin berhati keras dan cenderung mencari-cari kesalahan orang lain dan memanfaatkan pengetahuan Alkitab yang telah ia kuasai seperti yang dikatakan oleh Yesus, “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yoh 16.2).

Ada yang pernah mengatakan bahwa BIBLE singkatan dari “Basic Instructions Before Leaving Earth” yang artinya instruksi dasar sebelum meninggalkan bumi. Tetapi Alkitab bukan buku magic dan juga bukan Fortune Cookies (kue keberuntungan). Kita tidak dapat mengundi ayat firman TUHAN untuk memperoleh petunjuk dari-Nya. Seseorang mungkin berkata, “TUHAN saya mau bunuh diri, bolehkah? Dan ternyata ayat yang terundi adalah Yohanes 13.27 “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah segera”. Alkitab tidak dapat dibaca dengan sembarangan dipenggal. Pembagian Alkitab menjadi pasal dan ayat dilakukan dikemudian hari untuk mempermudah pencarian dan pengutipan. Ada yang karena membaca Wahyu 12:3 maka menyimpulkan bahwa naga itu sama dengan iblis tanpa memperhatikan bahwa naga yang dimaksudkan oleh Yohanes berkepala tujuh. Bagaimana dengan naga yang memuji TUHAN di Mazmur 148:7? Alkitab banyak menggunakan bahasa metafora seperti “TUHAN adalah batu”, bukan berarti setiap batu adalah TUHAN. Yesus adalah Singa Yehuda, tidak berarti singa itu Juruselamat sehingga kita harus menyembah singa di kebun binatang. TUHAN juga memerintahkan Yohanes, Yehezekiel dan Yeremia untuk memakan kitab (Why 10.9-10, Yeh 2.8-3.3, Yer 15.16), tentunya kita tidak diminta untuk memakan dan mengunyah Alkitab secara harafiah. Alkitab harus dibaca secara menyeluruh.

Firman TUHAN tidak hanya bersifat abstrak, filosofis maupun konseptual tetapi juga ontologis “Firman menjadi manusia”. Firman TUHAN memberitakan kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, kebebasan bagi yang tertindas dan ini semua digenapi dalam diri Yesus Kristus melalui Diri-Nya dan karya-Nya. TUHAN hadir bagi les miserables (baca orang-orang yang menderita). Tema besar Alkitab adalah “kasih” dimana TUHAN bersolidaritas, TUHAN menyamakan Diri-Nya dengan orang-orang yang menderita. Ia menyimpan air mata kita dalam kirbat-Nya (baca botol air) (Mazmur 56.9). Barangsiapa memberikan pertolongan kepada yang lemah, yang terkecil, yang tertindas, yang terbelenggu telah melakukannya pada Diri TUHAN. Ia mengajak kita untuk melihat wajah-Nya pada sesama seperti yang diungkapkan oleh Yakub kepada Esau yang kemudian juga muncul di dalam dialog film Les Miserables. Yakub berkata kepada Esau, “melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah” (Kejadian 33.10). 

Alkitab tidak untuk dipajang di rak buku tetapi untuk dikonsumsi secara spiritual. Ia lebih berharga dari emas karena ia dapat menyegarkan jiwa kita dan membuat mata kita bercahaya. Membuka hati untuk firman TUHAN juga berarti masuk ke dalam Cerita Allah dan klimaks dari Cerita tersebut adalah Firman menjadi manusia. Cerita tersebut di mulai di taman Eden dan akan berakhir di kota kudus, dimulai dengan pohon kehidupan dan akan diakhiri dengan pohon kehidupan. Inilah Cerita Sang Alfa dan Omega. Cerita ini masih berlangsung…

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.  (Mazmur 19.8)

Batam, 28 Januari, 2013
LYX

"Without Divine assistance I cannot succeed;  With it I cannot fail!" ~ Abraham Lincoln
"There are more sure marks of authenticity in the BIBLE than in any profane history." ...
I have a fundamental belief in the BIBLE as the Word of G-D, written by men who were inspired.  I study the BIBLE daily." ~ Sir Isaac Newton
"Suppose a nation in some distant Region should take the BIBLE for their only law Book,  and every member should regulate his conduct by the precepts there exhibited!   Every member would be obliged in conscience, to temperance, frugality,  and industry;  to justice, kindness,  and charity towards his fellow men;  and to piety, love,  and reverence toward  Almighty  G-D ...  What a Utopia,  what a Paradise would this region be" ~ John Adams

Selasa, 22 Januari 2013

THE INTOUCHABLES




The Intouchables (2011) mengisahkan persahabatan Phillippe, seorang kaya di Paris yang cacat dengan Driss seorang berkulit hitam dengan latar belakang keluarga yang berantakan. Film ini memenangkan banyak penghargaan, diantaranya Tokyo International Festival untuk pemeran terbaik – Francois Cluzet dan Omar Sy dan Phoenix Films Critics Society untuk film berbahasa asing terbaik.


Driss tidak ingin pekerjaan yang ditawarkan oleh Phillippe, menurut Driss, ia tidak memenuhi syarat dan tidak ada yang akan tertarik untuk mempekerjakan dirinya. Dia hanya ingin mengumpulkan tanda tangan demi mendapatkan tunjangan sosial. Tetapi Philippe malah tertarik untuk mempekerjakan Driss. Dan yang menarik adalah Driss tidak menganggap Philippe sebagai orang sakit dan justru sikapnya disenangi oleh Phillippe. 


Driss memberikan sukacita pada kehidupan Phillippe dan sebaliknya Phillippe telah memberikan kesempatan bagi Driss untuk bangkit kembali. Driss menolong Phillippe menghadapi dirinya sendiri yang cacat dengan berani pada saat Phillippe jatuh cinta dan sebaliknya Phillippe mendorong Driss untuk membimbing adiknya. Sepanjang cerita, penulis-sutradara Olivier Nakache dan Eric Toledano berupaya untuk menampilkan adegan-adegan lucu. Film ini mendemonstrasikan kelemahan manusia dan realita kehidupan. Manusia membutuhkan kesempatan, dorongan dan persahabatan untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukannya. ~ (lyx)


Senin, 21 Januari 2013

WHY DOES GOD ALLOW SUFFERING?



Bad things happen. Our perennial question will be “Does God care? Why doesn’t He interfere? Isn’t He almighty? If God is omnipotence, why doesn’t He end suffering? If God is kind, why does He inflict suffering on human beings?” It is difficult for us to comprehend why we do have to suffer. Doesn’t life intend to be good? If God is a loving God, why doesn’t He protect His children from suffering? Deist Philosophers seek on the answer by looking at the meaninglessness of life. Theologians discuss this issue by trying to reconcile the problem of evil with the characteristics of God – omnibenevolence, omnipotence and omniscience (all-loving, all-powerful and all-knowing).

Evil is not God’s creation but it is the result of “free will”, hence it is misuse of free will that causes suffering and thus suffering becomes inherent. God does not press “Ctrl+Alt+Enter” when His creation goes wrong. He did not cast it away and rebuild a new and better version. Instead, He creatively makes use of what has happened to make us loveable. You may argue that “God is almighty why doesn’t He choose a better and easy way?” Well, He already takes on the best way. God is almighty but His almightiness does not do “crap”. God can make a triangle and also a square but He cannot make a triangle square for a triangle is not a square and a square is not a triangle. He does not change a bullet to a peppermint or a nuclear warhead to a huge pillow.

Let us look at how God deals with suffering. He incarnated, coming to the world in human form and experienced great suffering to “undo” or using a better word to “fix” what has gone wrong. God redeemed humanity by His own suffering. He is the God who empathizes with our weakness (Hebrew 4.15). He is not the God who does not care but He understands suffering (Exodus 2.23-25). Have you ever asked a simple question, “Why do parents send their children to school?” Most children do not feel comfortable at school on their first day, some might cry terribly. Suffering is not merely bad; it can derive something good too. God does not erase suffering at this moment for He is making use of what has already happened to mold and make us lovable whilst He promises to end it on the Last Day. Suffering is not eternal it will end on the coming of our Lord. Let us turn suffering as barriers to suffering as stepping stones!

Batam, 21 Januari 2013
lyx

KASIH BUAT MANUSIA YANG RUSAK



Film musikal Les Miserables (orang-orang yang menderita) dimulai dengan sebuah lagu yang berjudul “look down”. Lihatlah ke bawah, Yesus tidak peduli (Look down, for Jesus does not care). Sebagai manusia yang menderita kita akan memandang bahwa hidup ini tidak berarti, kita ini tidak berfungsi, kita ini bagaikan barang rusak. Saya sangat terkesan dengan perkataan Hugo Cabret dalam film Hugo tahun 2011 yang diangkat dari novel Brian Selznick yang berjudul “The invention of Hugo Cabret”. Berikut ini kutipan perkataan Hugo Cabret yang patut disimak:

Everything has a purpose, even machines. Clocks tell the time, trains take you places. They do what they're meant to do, like Monsieur Labisse. Maybe that's why broken machines make me so sad, they can't do what they're meant to do. Maybe it's the same with people. If you lose your purpose, it's like you're broken.
Segala sesuatu memiliki fungsinya dan apabila ia tidak berfungsi lagi berarti ia sudah rusak. Begitu juga dengan manusia yang diciptakan dan dirancang untuk sebuah tujuan. Apabila ia tidak lagi berfungsi berdasarkan tujuan spiritualnya maka ia dinyatakan rusak secara spiritual. Seseorang mungkin mengatakan, “keberadaan saya adalah sebuah kesiasiaan, kelebihan (baca spare parts). Saya ini tidak ada gunanya”. Tidak ada manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak ada gunanya atau hanya berupa “sampah”. Setiap kita diciptakan dengan sebuah tujuan. Setiap kita memiliki peran yang sangat berarti yang seringkali tidak kita sadari. Hugo Cabret mengatakan… 

I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason too.
Ada alasan mengapa Anda dan saya hadir di dunia ini. Kita tidak ditempatkan secara acak oleh Sang Pencipta, Perancang alam semesta ini. Mungkin Anda akan berpikir, “Keberadaan saya sangat tidak berarti, tidak berguna, sia-sia, kelebihan alias ada tidak ada sama saja. Keberadaan saya tidak dihargai, peran saya terlalu kecil, sendirian, terisolasi, kesepian dan tidak diperlukan. Saya hanya seorang manusia yang berdosa dan sekali berdosa selamanya pendosa. Tidak ada kesempatan untuk membenahi diri. Tidak ada kesempatan untuk berbalik”. Sepertinya dunia kita sudah hancur, sudah tidak berarti lagi. Karena tidak mampu menyelesaikan persoalan sendiri kita berharap kita dapat menyelesaikan hidup kita (baca mati saja). Tetapi Yesus mengatakan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mark 2.17).

Perasaan ditolak dan tidak diterima dapat menimbulkan kepahitan dan kebencian. Apabila kita tidak dapat mentransformasi (transforms) rasa sakit kita maka kita akan menjangkiti (transmits) rasa sakit kita. Yang kita perlukan adalah membunuh kepahitan tanpa menjadi kepahitan. Kiranya perasaan diperbudak oleh kehidupan tidak menjadikan kita “korban”.  Sebab apabila kita menjadi korban atau merasa sebagai korban maka kita akan semakin merasa dirugikan, kesal, marah, pahit dan kemudian kita akan mengorbankan (victimize) orang lain. Berhentilah membenci dirimu sendiri! Hidup ini tidak harus selalu menang dan berdiri di tempat yang tinggi. Hidup ini juga termasuk sukacita di tengah kegagalan. Lebih baik gagal tetapi mendalami kehidupan daripada berhasil namun kehilangan hidup. Kita adalah manusia yang rusak (broken people) tetapi tidak ditinggalkan. Kita dikasihi dan disayang. Kata "sayang" dalam bahasa Mandarin 疼爱 (baca teng ai) mengandung arti “sakit” & “kasih”. Yesus mengasihi (疼爱) kita berarti Ia mengasihi kita dengan merasakan sakit (baca penderitaan) kita. Pandanglah ke atas sebab Yesus peduli (Look up for Jesus cares, He looks down and He came down).

Batam, 21 Januari 2013
lyx