Tampilkan postingan dengan label Movies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movies. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

FLIGHT (2012)



Kapten William Whitaker (Denzel Washington) adalah seorang alkoholik, juga pecandu narkoba. Dia selalu mengkonsumsi kokain untuk tetap sadar. Tidak lama setelah lepas landas pesawat goncang keras akibat cuaca buruk. Kapten Whitaker menggunakan caranya yang ekstrim yakni dengan kecepatan tinggi melewati awan badai. Setelah itu, dia sempat meneguk alkohol dan tertidur di tengah penerbangan.  Pada saat tertidur karena kelelahan, tiba-tiba mekanisme steering rusak sehingga pesawat jatuh dengan kecepatan tinggi dalam posisi hidung pesawat menghadap ke bawah. Whip menenangkan ko-pilot yang panik dan dengan tetap tenang berjuang untuk mendaratkan pesawat dengan selamat. Sekali lagi ia menggunakan cara ekstrimnya yakni membalikan pesawat dan terbang dalam kondisi terbalik sebelum pendaratan emergensi di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa pesawat memang dalam kondisi sudah harus diperbaiki dengan kata lain permasahan ada pada masalah pesawat dan bukan human error (baca kesalahan manusia). Whip dapat dikenal sebagai pahlawan seumur hidupnya tetapi Whip tidak mau terus hidup dalam kebohongan. Dia mengaku bahwa dirinya dalam kondisi mabuk pada hari itu dan dia jugalah yang meneguk habis dua botol vodka yang ditemui dalam tong sampah. Padahal dia dapat menuduh Katerina (pramugari yang sudah meninggal) yang menghabisi dua botol vodka sebab hasil penyelidikan menemukan kandungan alkohol dalam darah Katerina (Nadine Velazquez). Whip memilih untuk menghadapi realita dan berhenti hidup di dalam kebohongan. Di dalam penjara, ia memberikan kesaksian bagi para narapidana, salah satu kalimatnya ia mengatakan bahwa walaupun berada di dalam penjara, ia merasa sangat bebas.

Denzel Washington dan John Goodman mendapatkan nominasi sebagai pemeran terbaik dan pemeran pembantu terbaik oleh Golden Globe Award dan Satelite Award. Sutradara Flights Robert Zemeckis yang juga menyutradarai Cast Away, The Polar Express, Beowulf, A Christmas Carol menampilkan pesawat dalam keadaan terbang terbalik, adegan yang bisa dikatakan paling ekstrim. Mungkin setelah menonton film ini, ada orang-orang yang semakin takut bepergian dengan pesawat. (lyx)

Batam, 28 Januari 2013

Selasa, 22 Januari 2013

THE INTOUCHABLES




The Intouchables (2011) mengisahkan persahabatan Phillippe, seorang kaya di Paris yang cacat dengan Driss seorang berkulit hitam dengan latar belakang keluarga yang berantakan. Film ini memenangkan banyak penghargaan, diantaranya Tokyo International Festival untuk pemeran terbaik – Francois Cluzet dan Omar Sy dan Phoenix Films Critics Society untuk film berbahasa asing terbaik.


Driss tidak ingin pekerjaan yang ditawarkan oleh Phillippe, menurut Driss, ia tidak memenuhi syarat dan tidak ada yang akan tertarik untuk mempekerjakan dirinya. Dia hanya ingin mengumpulkan tanda tangan demi mendapatkan tunjangan sosial. Tetapi Philippe malah tertarik untuk mempekerjakan Driss. Dan yang menarik adalah Driss tidak menganggap Philippe sebagai orang sakit dan justru sikapnya disenangi oleh Phillippe. 


Driss memberikan sukacita pada kehidupan Phillippe dan sebaliknya Phillippe telah memberikan kesempatan bagi Driss untuk bangkit kembali. Driss menolong Phillippe menghadapi dirinya sendiri yang cacat dengan berani pada saat Phillippe jatuh cinta dan sebaliknya Phillippe mendorong Driss untuk membimbing adiknya. Sepanjang cerita, penulis-sutradara Olivier Nakache dan Eric Toledano berupaya untuk menampilkan adegan-adegan lucu. Film ini mendemonstrasikan kelemahan manusia dan realita kehidupan. Manusia membutuhkan kesempatan, dorongan dan persahabatan untuk dapat bangkit kembali dari keterpurukannya. ~ (lyx)


Senin, 21 Januari 2013

LES MISERABLES



Les Miserables (2012) diangkat dari Novel Perancis 1862 karya Victor Hugo. Film ini mengundang banyak pujian sekaligus kritik. Ada yang mengkritik bahwa film ini menghadirkan pemeran yang berpura-pura menjadi penyanyi sehingga film ini pantas disebut sebagai “singing miserable”. Umumnya, orang-orang berpendapat bahwa nyanyian Russel Crowe mengecewakan mereka. Saya memilih untuk merenungkan lirik lagu daripada memperhatikan apakah mereka bernyanyi dengan baik atau tidak.

Film ini dipenuhi dengan tema-tema Kristen seperti kasih karunia, anugerah, pengampunan, keadilan dan kasih. Salah satu kalimat dari film tersebut sudah menyimpulkan semangat Kekristenan yakni “to love another person is to see the face of God”. Semangat mengasihi sesama dapat dibaca di Matius 25.31-46. Yakub pernah berkata kepada Esau, “melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah” (Kejadian 33.10).

Film musikal tersebut berfokus pada seorang yang bernama Jean Valjean (Hugh Jackman) yang dipenjara selama 19 tahun akibat mencuri sepotong roti pada masa kecilnya demi menolong adik perempuannya yang sakit. Demi memerankan Jean Valjean pada masa perbudakannya, Hugh Jackman harus menguruskan badan dan kemudian harus menambah berat badan untuk memerankan Jean Valjean sebagai walikota. Jean Valjean hidup dalam kepahitan selama di penjara. Lagu “look down” yang dinyanyikan sangat pesimis – sebagian dari liriknya menyanyikan,

”Look down, look down, don’t look them in the eyes, you’re here until you die…, sweet Jesus doesn’t care. They have all forgotten you. How long o, Lord before you let me die? You will always be a slave. You are standing on your grave.”
Sebuah lagu yang menyanyikan keputusasaan, hidup tanpa arti, sebab hidup ini bagaikan budak yang tidak mempunyai kebebasan. Tuhan tidak peduli, sudah dilupakan dan ditinggalkan. Tiada kebebasan sebab manusia sudah berdiri di dalam kuburannya sendiri. Lihatlah ke bawah, sudah tidak ada pengharapan lagi. Sekali pencuri, selamanya pencuri. Sekali berdosa, selamanya pendosa, tidak ada anugerah, tidak ada pengampunan, tidak ada penebusan, tidak ada pengampunan. Setelah melewati satu hari kita hanya menjadi lebih tua sehari. Inilah hidup sebagai seorang miskin, seorang pendosa. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang mengasihi, tidak ada yang peduli. Lewat sehari berarti mengurangi penderitaan sehari. Hasil jerih payah tidak cukup untuk membiayai hidup. Manusia tidak berharga apabila mereka miskin. Inilah teriakan orang yang menderita.

Fantine (Anne Hathway) menyanyikan “I dream a dream” bahwa hidupnya telah dirampas, bahwa hidup ini telah membunuh impiannya. Anaknya sakit, ia tidak diterima semua rekan kerjanya, ia dipecat dari pekerjaannya. Kini ia harus melacurkan diri demi membiayai hidupnya.  Dan di tengah penderitaan, ada saja orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk merusak kehidupan orang lain dan meraup keuntungan dari orang lain. Santa Clause pun dirusak oleh mereka.

Javert (Russel Crowe) merupakan seorang penegak hukum yang tegas. Hidupnya mewakili hukum dan dirinya adalah hukum. Menurut Javert “jalanku merupakan jalan Tuhan”. Ia bekerja keras untuk menangkap Valjean dan menjatuhkan hukuman padanya. Ia juga ingin menangkap dan menghukum Fantine. Inilah dirinya sebagai penegak hukum. Bagi dirinya Javert hanya seorang narapidana yang bernomor 24601. Bagi dirinya manusia hanya berupa sebuah objek, sebuah label, sebuah angka. Ia membaca Alkitab dan melakukan kebenaran tetapi ia tidak melihat wajah Tuhan di dalam diri sesama sebab ia telah mengobjektivasi manusia. Manusia telah menjadi seperti barang bagi dirinya. Dia mencari yang jahat, yang berdosa, yang tidak adil, yang bersalah untuk diserang, dibenci, diperbudak dan bahkan dibunuh dan kemudian menyimpulkan bahwa ia sudah melaksanakan tugas sucinya bagi Tuhan (baca Yoh 16.2).

Anugerah dan kasih mengubah kebencian dan kepahitan. Pada saat ditolak dimana-mana seorang uskup menerima Valjean. Namun demikian, Valjean mencuri berbagai peralatan dari gereja kemudian melarikan diri. Pada saat ditangkap ia berbohong kepada polisi bahwa barang-barang yang ia bawa meruapakan hadiah dari uskup. Uskup pun menjawab bahwa apa yang dikatakannya memang benar. Valjean pun tersentuh dan berkomitmen mengubah hidupnya. Tetapi tidak demikian menurut Javert, apabila seseorang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, ia cenderung akan mengulangi kesalahannya dan tidak mungkin dapat memperbaiki diri. Ketika seseorang tertangkap dan hendak dihukum oleh Javert karena ia mirip dengan Valjean, Valjean terjebak dalam dilemma apakah menyelamatkan orang yang tidak bersalah ini atau menyelamatkan dirinya sendiri.

If I speak, I am condemned.
If I stay silent, I am damned!

Who am I?
Can I condemn this man to slavery
Pretend I do not feel his agony
This innocent who bears my face
Who goes to judgement in my place
Who am I?
Can I conceal myself for evermore?
Pretend I'm not the man I was before?
And must my name until I die
Be no more than an alibi?
Must I lie?
How can I ever face my fellow men?
How can I ever face myself again?
My soul belongs to God, I know
I made that bargain long ago
He gave me hope when hope was gone
He gave me strength to journey on

Who am I? Who am I?
I am Jean Valjean!

And so Javert, you see it's true
That man bears no more guilt than you!
Who am I?
24601!

Ketika memperoleh kesempatan untuk menghabisi Javert, Valjean memilih untuk melepaskan dia dan hanya berkata bahwa Javert tidak bersalah, ia hanya menjalani tugasnya. Inilah Anugerah dan Kasih yang menjadi tema utama dalam Les Miserables. ~ what we have, we share – to love another person is to see the face of God. Who are you? You are not “24601” but you are who you are. 

Batam, 21 Januari 2013
lyx

Sabtu, 27 Oktober 2012

THE BUCKET LIST (2007)


The Bucket List (2007) disutradarai oleh Bob Reiner, ditulis oleh Justin Zackham dan diperankan oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Film ini bercerita tentang pertemuan seorang mekanik, Carter Chambers (Morgan) dengan seorang kaya sekaligus pemilik rumah sakit Edward Cole (Jack Nicholson). Kedua orang ini sama-sama didiagnosa menderita kanker dengan waktu mereka yang hanya sisa 6 hingga 12 bulan.

Pada masa mudanya, Carter bercita-cita menjadi seorang professor sejarah akan tetapi cita-citanya sirna ketika istrinya mengandung sehingga ia mendefinisikan kondisi dirinya saat itu dengan 3 B – black, broke and with a baby on the way. Sebenarnya ia ingin kembali studi tetapi tanpa disadari waktu berlalu dengan cepat. Hobinya adalah menonton acara Jeopardy. 

Edward adalah seorang yang sangat kaya yang sudah 4 kali cerai. Kesukaan Edward adalah kopi luwak. Salah satu hal yang suka ia lakukan adalah mengubah nama orang. Ia selalu memanggil asistennya Thomas padahal asistennya bernama Matthew. Menurut Edward, Matthew terlalu “alkitabiah” sehingga ia gantikan dengan Thomas. Sikap Edward yang menyebalkan membuat dirinya tidak disukai banyak orang bahkan ketika ia menjalani operasi besar di rumah sakit, tidak ada satu orang pun yang mengunjungi dia.
Menyadari waktunya yang terbatas, Carter menulis sebuah daftar hal yang ia ingin kerjakan sebelum ia meninggal dunia yang disebut dengan “The bucket list” (a to do list before someone kicks the bucket). Carter menulis di Bucket list –
-          Witness something majestic.
-          Help a complete stranger for the good
Daftar tersebut kemudian dibaca oleh Edward dan ia menambahnya dengan hal baru seperti, skydiving, kiss a beautiful girl… Edward mendesak Carter untuk melaksanakan apa yang sudah tertulis di Bucket Lists maka mulailah perjalanan ke Eropa, India, Mesir dan China.

Film yang sederhana ini dibungkus dengan dialog yang menarik dan mendalam untuk direnungi. Pada saat mereka membicarakan tentang TUHAN dan iman Edward berkata, ”I envy people who have faith, I just can’t get my head around it.” Dan Carter menjawab, “Maybe because your head is in the way.” Carter, unlike Edward, is a man of faith.”

Ungkapan Carter tentang mendengarkan suara gunung sangat menarik perhatian saya. Carter mengatakan bahwa ia pernah mendengar seorang pendaki yang membagikan pengalamannya ketika mencapai puncak gunung Himalaya. Ia mendengarkan suara keheningan “profound silence” yakni “the sound of the mountain” seolah-olah ia mendengarkan suara TUHAN.

Berikut ini isi surat Carter kepada Edward..
”Dear Edward, I’ve gone back and forth the last few days trying to decide whether or not I should even write this. In the end, I realized I would regret it if I didn’t, so here it goes. I know the last time we saw each other, we weren’t exactly hitting the sweetest notes-certain wasn’t the way I wanted the trip to end. I suppose I’m responsible and for that, I’m sorry. But in all honestly, if I had the chance, I’d do it again. Virginia said I left a stranger and came back a husband; I owe that to you. There’s no way I can repay you for all you’ve done for me, so rather than try, I’m just going to ask you to do something else for me-find the joy in your life. You once said you’re not everyone. Well, that’s true-you’re certainly not everyone, but everyone is everyone. My pastor always says our lives are streams flowing into the same river towards whatever heaven lies in the mist beyond the falls. Find the joy in your life, Edward. My dear friend, close your eyes and let the waters take you home.”

Klimaks film ini terjadi pada saat sharing Edward di sebuah gereja pada kebaktian penghiburan/pemakaman Carter. Edward berkata, “
“I hope that it doesn’t sound selfish of me, but the last months of his life were the best months of mine. He saved my life, and he knew it before I did. I’m deeply proud that this man found it worth his while to know me. In the end, I think it’s safe to say that we brought some joy to one another’s lives, so one day, when I go to some final resting place, if I happen to wake up next to a certain wall with a gate, I hope that Carter’s there to vouch for me and show me the ropes on the other side.”

Di dalam narasi Carter di akhir film, penonton dikabarkan bahwa Edward mengalami perubahan hidup. Edward menyelesaikan apa yang ditulis di Bucket List seperti mencium cucunya, “kiss the most beautiful girl in the world”. Berikut ini narasi Carter di akhir film…
“Edward Perryman Cole died in May. It was a Sunday in the afternoon and there wasn’t a cloud in the sky. He was 81 years old. Even now, I can’t claim to understand the measure of a life, but I can tell you this: I know that when he died, his eyes were closed and his heart was open..”.

Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan (Roma 15.13)