Senin, 21 Januari 2013

WHY DOES GOD ALLOW SUFFERING?



Bad things happen. Our perennial question will be “Does God care? Why doesn’t He interfere? Isn’t He almighty? If God is omnipotence, why doesn’t He end suffering? If God is kind, why does He inflict suffering on human beings?” It is difficult for us to comprehend why we do have to suffer. Doesn’t life intend to be good? If God is a loving God, why doesn’t He protect His children from suffering? Deist Philosophers seek on the answer by looking at the meaninglessness of life. Theologians discuss this issue by trying to reconcile the problem of evil with the characteristics of God – omnibenevolence, omnipotence and omniscience (all-loving, all-powerful and all-knowing).

Evil is not God’s creation but it is the result of “free will”, hence it is misuse of free will that causes suffering and thus suffering becomes inherent. God does not press “Ctrl+Alt+Enter” when His creation goes wrong. He did not cast it away and rebuild a new and better version. Instead, He creatively makes use of what has happened to make us loveable. You may argue that “God is almighty why doesn’t He choose a better and easy way?” Well, He already takes on the best way. God is almighty but His almightiness does not do “crap”. God can make a triangle and also a square but He cannot make a triangle square for a triangle is not a square and a square is not a triangle. He does not change a bullet to a peppermint or a nuclear warhead to a huge pillow.

Let us look at how God deals with suffering. He incarnated, coming to the world in human form and experienced great suffering to “undo” or using a better word to “fix” what has gone wrong. God redeemed humanity by His own suffering. He is the God who empathizes with our weakness (Hebrew 4.15). He is not the God who does not care but He understands suffering (Exodus 2.23-25). Have you ever asked a simple question, “Why do parents send their children to school?” Most children do not feel comfortable at school on their first day, some might cry terribly. Suffering is not merely bad; it can derive something good too. God does not erase suffering at this moment for He is making use of what has already happened to mold and make us lovable whilst He promises to end it on the Last Day. Suffering is not eternal it will end on the coming of our Lord. Let us turn suffering as barriers to suffering as stepping stones!

Batam, 21 Januari 2013
lyx

KASIH BUAT MANUSIA YANG RUSAK



Film musikal Les Miserables (orang-orang yang menderita) dimulai dengan sebuah lagu yang berjudul “look down”. Lihatlah ke bawah, Yesus tidak peduli (Look down, for Jesus does not care). Sebagai manusia yang menderita kita akan memandang bahwa hidup ini tidak berarti, kita ini tidak berfungsi, kita ini bagaikan barang rusak. Saya sangat terkesan dengan perkataan Hugo Cabret dalam film Hugo tahun 2011 yang diangkat dari novel Brian Selznick yang berjudul “The invention of Hugo Cabret”. Berikut ini kutipan perkataan Hugo Cabret yang patut disimak:

Everything has a purpose, even machines. Clocks tell the time, trains take you places. They do what they're meant to do, like Monsieur Labisse. Maybe that's why broken machines make me so sad, they can't do what they're meant to do. Maybe it's the same with people. If you lose your purpose, it's like you're broken.
Segala sesuatu memiliki fungsinya dan apabila ia tidak berfungsi lagi berarti ia sudah rusak. Begitu juga dengan manusia yang diciptakan dan dirancang untuk sebuah tujuan. Apabila ia tidak lagi berfungsi berdasarkan tujuan spiritualnya maka ia dinyatakan rusak secara spiritual. Seseorang mungkin mengatakan, “keberadaan saya adalah sebuah kesiasiaan, kelebihan (baca spare parts). Saya ini tidak ada gunanya”. Tidak ada manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak ada gunanya atau hanya berupa “sampah”. Setiap kita diciptakan dengan sebuah tujuan. Setiap kita memiliki peran yang sangat berarti yang seringkali tidak kita sadari. Hugo Cabret mengatakan… 

I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason too.
Ada alasan mengapa Anda dan saya hadir di dunia ini. Kita tidak ditempatkan secara acak oleh Sang Pencipta, Perancang alam semesta ini. Mungkin Anda akan berpikir, “Keberadaan saya sangat tidak berarti, tidak berguna, sia-sia, kelebihan alias ada tidak ada sama saja. Keberadaan saya tidak dihargai, peran saya terlalu kecil, sendirian, terisolasi, kesepian dan tidak diperlukan. Saya hanya seorang manusia yang berdosa dan sekali berdosa selamanya pendosa. Tidak ada kesempatan untuk membenahi diri. Tidak ada kesempatan untuk berbalik”. Sepertinya dunia kita sudah hancur, sudah tidak berarti lagi. Karena tidak mampu menyelesaikan persoalan sendiri kita berharap kita dapat menyelesaikan hidup kita (baca mati saja). Tetapi Yesus mengatakan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mark 2.17).

Perasaan ditolak dan tidak diterima dapat menimbulkan kepahitan dan kebencian. Apabila kita tidak dapat mentransformasi (transforms) rasa sakit kita maka kita akan menjangkiti (transmits) rasa sakit kita. Yang kita perlukan adalah membunuh kepahitan tanpa menjadi kepahitan. Kiranya perasaan diperbudak oleh kehidupan tidak menjadikan kita “korban”.  Sebab apabila kita menjadi korban atau merasa sebagai korban maka kita akan semakin merasa dirugikan, kesal, marah, pahit dan kemudian kita akan mengorbankan (victimize) orang lain. Berhentilah membenci dirimu sendiri! Hidup ini tidak harus selalu menang dan berdiri di tempat yang tinggi. Hidup ini juga termasuk sukacita di tengah kegagalan. Lebih baik gagal tetapi mendalami kehidupan daripada berhasil namun kehilangan hidup. Kita adalah manusia yang rusak (broken people) tetapi tidak ditinggalkan. Kita dikasihi dan disayang. Kata "sayang" dalam bahasa Mandarin 疼爱 (baca teng ai) mengandung arti “sakit” & “kasih”. Yesus mengasihi (疼爱) kita berarti Ia mengasihi kita dengan merasakan sakit (baca penderitaan) kita. Pandanglah ke atas sebab Yesus peduli (Look up for Jesus cares, He looks down and He came down).

Batam, 21 Januari 2013
lyx

LES MISERABLES



Les Miserables (2012) diangkat dari Novel Perancis 1862 karya Victor Hugo. Film ini mengundang banyak pujian sekaligus kritik. Ada yang mengkritik bahwa film ini menghadirkan pemeran yang berpura-pura menjadi penyanyi sehingga film ini pantas disebut sebagai “singing miserable”. Umumnya, orang-orang berpendapat bahwa nyanyian Russel Crowe mengecewakan mereka. Saya memilih untuk merenungkan lirik lagu daripada memperhatikan apakah mereka bernyanyi dengan baik atau tidak.

Film ini dipenuhi dengan tema-tema Kristen seperti kasih karunia, anugerah, pengampunan, keadilan dan kasih. Salah satu kalimat dari film tersebut sudah menyimpulkan semangat Kekristenan yakni “to love another person is to see the face of God”. Semangat mengasihi sesama dapat dibaca di Matius 25.31-46. Yakub pernah berkata kepada Esau, “melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah” (Kejadian 33.10).

Film musikal tersebut berfokus pada seorang yang bernama Jean Valjean (Hugh Jackman) yang dipenjara selama 19 tahun akibat mencuri sepotong roti pada masa kecilnya demi menolong adik perempuannya yang sakit. Demi memerankan Jean Valjean pada masa perbudakannya, Hugh Jackman harus menguruskan badan dan kemudian harus menambah berat badan untuk memerankan Jean Valjean sebagai walikota. Jean Valjean hidup dalam kepahitan selama di penjara. Lagu “look down” yang dinyanyikan sangat pesimis – sebagian dari liriknya menyanyikan,

”Look down, look down, don’t look them in the eyes, you’re here until you die…, sweet Jesus doesn’t care. They have all forgotten you. How long o, Lord before you let me die? You will always be a slave. You are standing on your grave.”
Sebuah lagu yang menyanyikan keputusasaan, hidup tanpa arti, sebab hidup ini bagaikan budak yang tidak mempunyai kebebasan. Tuhan tidak peduli, sudah dilupakan dan ditinggalkan. Tiada kebebasan sebab manusia sudah berdiri di dalam kuburannya sendiri. Lihatlah ke bawah, sudah tidak ada pengharapan lagi. Sekali pencuri, selamanya pencuri. Sekali berdosa, selamanya pendosa, tidak ada anugerah, tidak ada pengampunan, tidak ada penebusan, tidak ada pengampunan. Setelah melewati satu hari kita hanya menjadi lebih tua sehari. Inilah hidup sebagai seorang miskin, seorang pendosa. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang mengasihi, tidak ada yang peduli. Lewat sehari berarti mengurangi penderitaan sehari. Hasil jerih payah tidak cukup untuk membiayai hidup. Manusia tidak berharga apabila mereka miskin. Inilah teriakan orang yang menderita.

Fantine (Anne Hathway) menyanyikan “I dream a dream” bahwa hidupnya telah dirampas, bahwa hidup ini telah membunuh impiannya. Anaknya sakit, ia tidak diterima semua rekan kerjanya, ia dipecat dari pekerjaannya. Kini ia harus melacurkan diri demi membiayai hidupnya.  Dan di tengah penderitaan, ada saja orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk merusak kehidupan orang lain dan meraup keuntungan dari orang lain. Santa Clause pun dirusak oleh mereka.

Javert (Russel Crowe) merupakan seorang penegak hukum yang tegas. Hidupnya mewakili hukum dan dirinya adalah hukum. Menurut Javert “jalanku merupakan jalan Tuhan”. Ia bekerja keras untuk menangkap Valjean dan menjatuhkan hukuman padanya. Ia juga ingin menangkap dan menghukum Fantine. Inilah dirinya sebagai penegak hukum. Bagi dirinya Javert hanya seorang narapidana yang bernomor 24601. Bagi dirinya manusia hanya berupa sebuah objek, sebuah label, sebuah angka. Ia membaca Alkitab dan melakukan kebenaran tetapi ia tidak melihat wajah Tuhan di dalam diri sesama sebab ia telah mengobjektivasi manusia. Manusia telah menjadi seperti barang bagi dirinya. Dia mencari yang jahat, yang berdosa, yang tidak adil, yang bersalah untuk diserang, dibenci, diperbudak dan bahkan dibunuh dan kemudian menyimpulkan bahwa ia sudah melaksanakan tugas sucinya bagi Tuhan (baca Yoh 16.2).

Anugerah dan kasih mengubah kebencian dan kepahitan. Pada saat ditolak dimana-mana seorang uskup menerima Valjean. Namun demikian, Valjean mencuri berbagai peralatan dari gereja kemudian melarikan diri. Pada saat ditangkap ia berbohong kepada polisi bahwa barang-barang yang ia bawa meruapakan hadiah dari uskup. Uskup pun menjawab bahwa apa yang dikatakannya memang benar. Valjean pun tersentuh dan berkomitmen mengubah hidupnya. Tetapi tidak demikian menurut Javert, apabila seseorang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, ia cenderung akan mengulangi kesalahannya dan tidak mungkin dapat memperbaiki diri. Ketika seseorang tertangkap dan hendak dihukum oleh Javert karena ia mirip dengan Valjean, Valjean terjebak dalam dilemma apakah menyelamatkan orang yang tidak bersalah ini atau menyelamatkan dirinya sendiri.

If I speak, I am condemned.
If I stay silent, I am damned!

Who am I?
Can I condemn this man to slavery
Pretend I do not feel his agony
This innocent who bears my face
Who goes to judgement in my place
Who am I?
Can I conceal myself for evermore?
Pretend I'm not the man I was before?
And must my name until I die
Be no more than an alibi?
Must I lie?
How can I ever face my fellow men?
How can I ever face myself again?
My soul belongs to God, I know
I made that bargain long ago
He gave me hope when hope was gone
He gave me strength to journey on

Who am I? Who am I?
I am Jean Valjean!

And so Javert, you see it's true
That man bears no more guilt than you!
Who am I?
24601!

Ketika memperoleh kesempatan untuk menghabisi Javert, Valjean memilih untuk melepaskan dia dan hanya berkata bahwa Javert tidak bersalah, ia hanya menjalani tugasnya. Inilah Anugerah dan Kasih yang menjadi tema utama dalam Les Miserables. ~ what we have, we share – to love another person is to see the face of God. Who are you? You are not “24601” but you are who you are. 

Batam, 21 Januari 2013
lyx

Jumat, 11 Januari 2013

Pulang: Sebuah Novel Karya Leila S. Chudori

“Rumah adalah tempat di mana aku bisa pulang.” 
Dimas Suryo

Percikan kalimat pendek di atas menjadi jantung dari novel Pulang. Pulang mengisahkan pergumulan para eksil yang terlibat maupun dituduh terlibat dalam peristiwa berdarah di tahun 1965. Mereka “terjebak” di Perancis dan tak dapat menjejakkan kakinya kembali ke Indonesia karena mengalami berbagai peraturan diskriminatif dari rezim Orde Baru. Hingga akhirnya mereka dapat kembali pulang --dalam bentuk manusia utuh ataupun seonggok mayat—ke Indonesia, setelah kejatuhan rezim Orde Baru di tahun 1998.

Novel bergenre sejarah ini berlatarkan tiga peristiwa kunci: Indonesia di tahun 1965, gerakan mahasiswa di Perancis di tahun 1968, dan kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Dengan alur yang sangat memikat di tengah-tengah ketakberaturannya, novel ini menggiring saya untuk memasuki tiga konteks itu dan dengan sigap menyerap saya dalam pusaran imajinasi tentang sisi lain dari peristiwa sejarah 1965, yakni pergumulan orang-orang yang dicap oleh pemerintah sebagai aktor dan keluarganya. 


Novel bercorak pos-kolonial ini menceritakan fragmen-fragmen pergumulan para tokoh utama dan orang-orang yang dicap sebagai antek-antek PKI. Novel ini adalah sebuah bentuk penentangan terhadap gelombang besar produk tunggal historis yang dirangkai oleh satu rezim. Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam menjadi tiga tokoh utama dengan berbagai orang di sekitarnya. Bagi saya, keberadaan lebih dari satu tokoh kunci dan pergumulan orang-orang di sekitarnya membuat novel ini menjadi lebih memikat. 


Dimas Suryo menjadi seorang eksil –yang terpaksa menjadi eksil—di Perancis, karena menggantikan Hananto Prawiro (seorang redaktur di kantor Berita Nusantara yang berkaitan dengan PKI dan Lekra) untuk mengikuti Konferensi Wartawan Asia Afrika di Peking. Dimas Suryo bukanlah seorang golongan kaum kiri. Ia hanya terjebak dan dipandang sebagai golongan kaum kiri. Pada saat itu, Indonesia tidak mengenal warna dan arah lain selain hitam dan putih serta kiri dan kanan. Tidak ada kata bagi moderat dan sejuta warna lainnya. Dimas dicemplungkan ke dalam warna hitam dan kiri karena keterlibatannya di kantor Berita Nusantara. Hubungan Dimas dengan Hananto terpilin karena Surti, mantan kekasih Dimas yang akhirnya memilih Hananto. Hananto menitipkan Surti dan ketiga anaknya kepada Dimas, setelah ia harus diburu dan akhirnya dihukum mati karena keterlibatannya dalam tubuh PKI. 


Dalam pelariannya di Perancis, ia berjumpa dengan Vivenne Deveraux. Vivenne adalah mahasiswi yang mengikuti unjuk rasa melawan pemerintah Perancis. Vivenne menjadi istri Dimas karena cinta pada pandangan pertama. Di Perancis, Dimas berjumpa kembali dengan kawan-kawannya yang menjadi eksil yakni: Nug, Tjai, dan Risjaf. Mereka merindukan untuk pulang ke rumah mereka. Hanya Risjaf yang berhasil pulang. Namun selebihnya tidak dapat pulang ke tanah airnya karena diskriminasi yang mereka alami sebagai orang-orang yang dicap “berbahaya” oleh polisi. Mereka pun mendirikan restoran Tanah Air sebagai ekspressi atas kerinduan mereka terhadap Indonesia dan desakkan dari dewa ekonomi yang memaksa mereka untuk bertahan hidup di Perancis. Di sela-sela alur besar ini, kita dapat menemukan kisah cinta dan prahara rumah tangga yang menarik serta alunan nada sedih dari orang-orang yang mereka tinggalkan di tanah air melalui untaian surat dan telegram yang mereka terima dari kerabat mereka yang harus menderita di Indonesia karena dianggap sebagai keluarga PKI. 


Lintang Utara Suryo adalah putri cantik dan pintar dari pasangan Dimas dan Vivenne. Ia menguasai tiga bahasa: Perancis, Inggris dan Indonesia. Cita-cita Dimas untuk menjejak ke tanah air diwakili oleh Lintang anaknya yang harus merampungkan tugas akhir studi strata satunya dengan membuat sebuah film dokumenter bertemakan pergumulan dan penderitaan keluarga orang-orang yang terlibat maupun dituduh sebagai anggota PKI.  Lintang berhasil mendapatkan visa ke Indonesia atas bantuan Narayana Lavebre (kekasihnya) dan teman-temannya. Mereka memasukkan nama Utara sebagai nama keluarga Lintang dan membuang nama Suryo dalam formulir pendaftaran visa milik Lintang.


Lintang pulang ke Indonesia pada saat-saat yang berat. Ayahnya, Dimas Suryo, sedang mengidap cirrhosis, penyakit yang dirahasiakan Dimas pada Lintang. Tidak hanya itu, keadaan politik dan ekonomi di Indonesia sedang memanas, yakni pada kisaran bulan Mei 1998. Di Indonesia, ia ikut mengalami peristiwa Mei 1998, yakni kerusuhan besar, penganiayaan terhadap etnis Tionghoa dan jatuhnya rezim Orde Baru, yang telah “menghadiahi” keluarga besar mereka dengan sebuah cap besar: DISKRIMINASI. Di Indonesia, ia harus mendengar kisah pedih dari keluarga orang-orang yang dicap terlibat PKI. Ia mendengarkan pedihnya ungkapan tante Surti Anandari yang mengalami pelecehan seksual pada saat diinterogasi. Ia merasakan kepedihan ketika ayahnya dimaki-maki oleh golongan “elit” yang mencicipi gelimang harta dari rezim orde baru. Ia merasakan pergumulan keluarga pamannya, Aji Suryo yang mengalami diskriminasi untuk mendapat pekerjaan di instansi pemerintahaan. Kisah hidup Lintang menjadi semakin menarik dengan bumbu kisah cinta segitiga yang dialaminya dengan Narayana dan Alam Sagara.


Alam Sagara adalah putra bungsu dari Surti Anandari (mantan kekasih Dimas) dan Hananto Prawiro. Laki-laki tampan ini memikat hati Lintang dalam cinta pada pandangan pertama. Ialah yang membantu lintang membuat film dokumenter itu dengan menghubungkan Lintang pada para korban dan tokoh-tokoh perjuanan Hak Asasi Manusia. Keterlibatannya dalam perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia, membuatnya memiliki jejaring dengan berbagai tokoh penting seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra dan tokoh-tokoh lainnya. Lintang dan Alam terlibat dalam pengejaran intel Orde Baru yang mengincar Alam sebagai targetnya. 


Tidak mudah untuk menceritakan kekayaan novel ini dalam sebuah tulisan singkat. Dari novel ini, saya belajar sisi lain sejarah dari perspektif orang-orang yang mengalami diskriminasi. Selama ini, orde baru memanipulasi dan menumpulkan daya kritis rakyatnya dengan membentuk sebuah narasi historis tunggal dari sudut pandang P.E.N.G.U.A.S.A.  Mereka yang disebut penguasa memercikan roh kebencian dan roh diskriminatif pada mereka dan keluarga mereka yang dimasukkan ke dalam kategori pelaku G.30. SPKI. Saya ingat setiap tanggal 30 September, diputar film tentang penembakan jendral yang dilakukan oleh anggota PKI, tanpa pernah menceritakan bagaimana pergumulan mereka dan orang-orang tak bersalah yang dianggap terlibat dalam pergerakkan ini. Di samping itu, dari novel ini saya juga mencicipi kebudayaan Indonesia yang berharga yakni kisah-kisah pewayangan Mahabarata dan berbagai kutipan dari pujangga Indonesia. Kekayaan budaya dan karya ini perlu diketahui oleh kaum muda bangsa Indonesia. Demi menimbulkan hasrat penasaran, saya tidak akan menceritakan detilnya dalam tulisan ini. Akhirnya, saya merekomendasikan para pencinta novel dan orang yang baru mau mencintai sastra untuk mengalami apa yang saya rasakan: terjun ke dalam pusaran imajinasi apik dalam novel berjudul Pulang.


Judul : Pulang

Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : Desember 2012


Emsiseyar
Januari 2013, 
dalam keheningan rumahku di Bandung 
rumah dan kota yang selalu membuat saya ingin pulang.

The Meaning of Christmas


Tulisan berikut ini merupakan refleksi Natal yang saya buat pada tahun 2011 lalu. Versi bahasa Inggris ini saya kirimkan ke beberapa teman di luar negeri yang mengikuti pertemuan internasional kaum muda Eropa di Berlin, Jerman pada tanggal 28 Desember 2011 hingga 2 Januari 2012.
  
What is the meaning of Christmas?

For me the meaning of Christmas this year is about to dare to take a risk of trust. I learn this especially from Mary, the mother of Jesus. At that time, Mary is a young girl. One thing that make me amaze is that this young girl dare to take a risk to accept the gift from God: conceiving a child which is come from the Holy Spirit. Imagine, one day suddenly somebody come to you and say that you will conceiving a child which is come from the Holy Spirit. So weird isn't it? Perhaps spontaneously you will cease him out or you simply refuse because this is ridiculous and doesn't make any sense. 

In the other hand, imagine how big is the risk. At that time, a woman who have a child out of marriage will get a very heavy punishment, even a capital punishment. But Mary did it. She dare to take a risk with deep self-surrender to God. She said, "Here I am, the servant of the Lord, let it be with me according to your word." (Luke 1:38). We can rise a question, why Mary decided to accept this "risky gift"? Do she have a good reason to do that? I wondering if we ask her this question at that time, she simply reply, "I don't know neither. All I want to do now is to keep these things in my heart and I WILL SEE..." :-) 

By the way, I discover, in fact the one who dare to take a risk of trust first is God Himself. Yes, God dare to take a risk to entrust His only Son to a young girl...to us, the human being... God dare to take a risk of being refused (it was very make sense if Mary refuse to conceiving a child), of being born in the very poor place in the world (not in luxury and comfort hospital)... even the risk of being crucified.

Nowadays, many people so fear to take "a risky decision". Our society tend to avoid the "risky decisions". The important things are security and safety. "Take decision which is the most less risky," they always suggest us. If you dare to take "a risky decision" they will say, "you are insane". But life is always risky isn't it? We only live once on this earth, so let's dare to take a risk of trust. We believe that through this "risky path", we will come to the fullness of life.    

Once again I remind myself: dare to take a risk of trust in this life... do it with a deep self-surrender to God, just like Mother Mary did.

I wish you a good meeting in Berlin.

I also wish you a Merry Christmas and happy new year. May we can welcome Christ in our life without being fear of the risky things... May Christ fill our heart with peace and joy. (rrb)