Senin, 21 Januari 2013

LES MISERABLES



Les Miserables (2012) diangkat dari Novel Perancis 1862 karya Victor Hugo. Film ini mengundang banyak pujian sekaligus kritik. Ada yang mengkritik bahwa film ini menghadirkan pemeran yang berpura-pura menjadi penyanyi sehingga film ini pantas disebut sebagai “singing miserable”. Umumnya, orang-orang berpendapat bahwa nyanyian Russel Crowe mengecewakan mereka. Saya memilih untuk merenungkan lirik lagu daripada memperhatikan apakah mereka bernyanyi dengan baik atau tidak.

Film ini dipenuhi dengan tema-tema Kristen seperti kasih karunia, anugerah, pengampunan, keadilan dan kasih. Salah satu kalimat dari film tersebut sudah menyimpulkan semangat Kekristenan yakni “to love another person is to see the face of God”. Semangat mengasihi sesama dapat dibaca di Matius 25.31-46. Yakub pernah berkata kepada Esau, “melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah” (Kejadian 33.10).

Film musikal tersebut berfokus pada seorang yang bernama Jean Valjean (Hugh Jackman) yang dipenjara selama 19 tahun akibat mencuri sepotong roti pada masa kecilnya demi menolong adik perempuannya yang sakit. Demi memerankan Jean Valjean pada masa perbudakannya, Hugh Jackman harus menguruskan badan dan kemudian harus menambah berat badan untuk memerankan Jean Valjean sebagai walikota. Jean Valjean hidup dalam kepahitan selama di penjara. Lagu “look down” yang dinyanyikan sangat pesimis – sebagian dari liriknya menyanyikan,

”Look down, look down, don’t look them in the eyes, you’re here until you die…, sweet Jesus doesn’t care. They have all forgotten you. How long o, Lord before you let me die? You will always be a slave. You are standing on your grave.”
Sebuah lagu yang menyanyikan keputusasaan, hidup tanpa arti, sebab hidup ini bagaikan budak yang tidak mempunyai kebebasan. Tuhan tidak peduli, sudah dilupakan dan ditinggalkan. Tiada kebebasan sebab manusia sudah berdiri di dalam kuburannya sendiri. Lihatlah ke bawah, sudah tidak ada pengharapan lagi. Sekali pencuri, selamanya pencuri. Sekali berdosa, selamanya pendosa, tidak ada anugerah, tidak ada pengampunan, tidak ada penebusan, tidak ada pengampunan. Setelah melewati satu hari kita hanya menjadi lebih tua sehari. Inilah hidup sebagai seorang miskin, seorang pendosa. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang mengasihi, tidak ada yang peduli. Lewat sehari berarti mengurangi penderitaan sehari. Hasil jerih payah tidak cukup untuk membiayai hidup. Manusia tidak berharga apabila mereka miskin. Inilah teriakan orang yang menderita.

Fantine (Anne Hathway) menyanyikan “I dream a dream” bahwa hidupnya telah dirampas, bahwa hidup ini telah membunuh impiannya. Anaknya sakit, ia tidak diterima semua rekan kerjanya, ia dipecat dari pekerjaannya. Kini ia harus melacurkan diri demi membiayai hidupnya.  Dan di tengah penderitaan, ada saja orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk merusak kehidupan orang lain dan meraup keuntungan dari orang lain. Santa Clause pun dirusak oleh mereka.

Javert (Russel Crowe) merupakan seorang penegak hukum yang tegas. Hidupnya mewakili hukum dan dirinya adalah hukum. Menurut Javert “jalanku merupakan jalan Tuhan”. Ia bekerja keras untuk menangkap Valjean dan menjatuhkan hukuman padanya. Ia juga ingin menangkap dan menghukum Fantine. Inilah dirinya sebagai penegak hukum. Bagi dirinya Javert hanya seorang narapidana yang bernomor 24601. Bagi dirinya manusia hanya berupa sebuah objek, sebuah label, sebuah angka. Ia membaca Alkitab dan melakukan kebenaran tetapi ia tidak melihat wajah Tuhan di dalam diri sesama sebab ia telah mengobjektivasi manusia. Manusia telah menjadi seperti barang bagi dirinya. Dia mencari yang jahat, yang berdosa, yang tidak adil, yang bersalah untuk diserang, dibenci, diperbudak dan bahkan dibunuh dan kemudian menyimpulkan bahwa ia sudah melaksanakan tugas sucinya bagi Tuhan (baca Yoh 16.2).

Anugerah dan kasih mengubah kebencian dan kepahitan. Pada saat ditolak dimana-mana seorang uskup menerima Valjean. Namun demikian, Valjean mencuri berbagai peralatan dari gereja kemudian melarikan diri. Pada saat ditangkap ia berbohong kepada polisi bahwa barang-barang yang ia bawa meruapakan hadiah dari uskup. Uskup pun menjawab bahwa apa yang dikatakannya memang benar. Valjean pun tersentuh dan berkomitmen mengubah hidupnya. Tetapi tidak demikian menurut Javert, apabila seseorang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, ia cenderung akan mengulangi kesalahannya dan tidak mungkin dapat memperbaiki diri. Ketika seseorang tertangkap dan hendak dihukum oleh Javert karena ia mirip dengan Valjean, Valjean terjebak dalam dilemma apakah menyelamatkan orang yang tidak bersalah ini atau menyelamatkan dirinya sendiri.

If I speak, I am condemned.
If I stay silent, I am damned!

Who am I?
Can I condemn this man to slavery
Pretend I do not feel his agony
This innocent who bears my face
Who goes to judgement in my place
Who am I?
Can I conceal myself for evermore?
Pretend I'm not the man I was before?
And must my name until I die
Be no more than an alibi?
Must I lie?
How can I ever face my fellow men?
How can I ever face myself again?
My soul belongs to God, I know
I made that bargain long ago
He gave me hope when hope was gone
He gave me strength to journey on

Who am I? Who am I?
I am Jean Valjean!

And so Javert, you see it's true
That man bears no more guilt than you!
Who am I?
24601!

Ketika memperoleh kesempatan untuk menghabisi Javert, Valjean memilih untuk melepaskan dia dan hanya berkata bahwa Javert tidak bersalah, ia hanya menjalani tugasnya. Inilah Anugerah dan Kasih yang menjadi tema utama dalam Les Miserables. ~ what we have, we share – to love another person is to see the face of God. Who are you? You are not “24601” but you are who you are. 

Batam, 21 Januari 2013
lyx

Jumat, 11 Januari 2013

Pulang: Sebuah Novel Karya Leila S. Chudori

“Rumah adalah tempat di mana aku bisa pulang.” 
Dimas Suryo

Percikan kalimat pendek di atas menjadi jantung dari novel Pulang. Pulang mengisahkan pergumulan para eksil yang terlibat maupun dituduh terlibat dalam peristiwa berdarah di tahun 1965. Mereka “terjebak” di Perancis dan tak dapat menjejakkan kakinya kembali ke Indonesia karena mengalami berbagai peraturan diskriminatif dari rezim Orde Baru. Hingga akhirnya mereka dapat kembali pulang --dalam bentuk manusia utuh ataupun seonggok mayat—ke Indonesia, setelah kejatuhan rezim Orde Baru di tahun 1998.

Novel bergenre sejarah ini berlatarkan tiga peristiwa kunci: Indonesia di tahun 1965, gerakan mahasiswa di Perancis di tahun 1968, dan kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Dengan alur yang sangat memikat di tengah-tengah ketakberaturannya, novel ini menggiring saya untuk memasuki tiga konteks itu dan dengan sigap menyerap saya dalam pusaran imajinasi tentang sisi lain dari peristiwa sejarah 1965, yakni pergumulan orang-orang yang dicap oleh pemerintah sebagai aktor dan keluarganya. 


Novel bercorak pos-kolonial ini menceritakan fragmen-fragmen pergumulan para tokoh utama dan orang-orang yang dicap sebagai antek-antek PKI. Novel ini adalah sebuah bentuk penentangan terhadap gelombang besar produk tunggal historis yang dirangkai oleh satu rezim. Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam menjadi tiga tokoh utama dengan berbagai orang di sekitarnya. Bagi saya, keberadaan lebih dari satu tokoh kunci dan pergumulan orang-orang di sekitarnya membuat novel ini menjadi lebih memikat. 


Dimas Suryo menjadi seorang eksil –yang terpaksa menjadi eksil—di Perancis, karena menggantikan Hananto Prawiro (seorang redaktur di kantor Berita Nusantara yang berkaitan dengan PKI dan Lekra) untuk mengikuti Konferensi Wartawan Asia Afrika di Peking. Dimas Suryo bukanlah seorang golongan kaum kiri. Ia hanya terjebak dan dipandang sebagai golongan kaum kiri. Pada saat itu, Indonesia tidak mengenal warna dan arah lain selain hitam dan putih serta kiri dan kanan. Tidak ada kata bagi moderat dan sejuta warna lainnya. Dimas dicemplungkan ke dalam warna hitam dan kiri karena keterlibatannya di kantor Berita Nusantara. Hubungan Dimas dengan Hananto terpilin karena Surti, mantan kekasih Dimas yang akhirnya memilih Hananto. Hananto menitipkan Surti dan ketiga anaknya kepada Dimas, setelah ia harus diburu dan akhirnya dihukum mati karena keterlibatannya dalam tubuh PKI. 


Dalam pelariannya di Perancis, ia berjumpa dengan Vivenne Deveraux. Vivenne adalah mahasiswi yang mengikuti unjuk rasa melawan pemerintah Perancis. Vivenne menjadi istri Dimas karena cinta pada pandangan pertama. Di Perancis, Dimas berjumpa kembali dengan kawan-kawannya yang menjadi eksil yakni: Nug, Tjai, dan Risjaf. Mereka merindukan untuk pulang ke rumah mereka. Hanya Risjaf yang berhasil pulang. Namun selebihnya tidak dapat pulang ke tanah airnya karena diskriminasi yang mereka alami sebagai orang-orang yang dicap “berbahaya” oleh polisi. Mereka pun mendirikan restoran Tanah Air sebagai ekspressi atas kerinduan mereka terhadap Indonesia dan desakkan dari dewa ekonomi yang memaksa mereka untuk bertahan hidup di Perancis. Di sela-sela alur besar ini, kita dapat menemukan kisah cinta dan prahara rumah tangga yang menarik serta alunan nada sedih dari orang-orang yang mereka tinggalkan di tanah air melalui untaian surat dan telegram yang mereka terima dari kerabat mereka yang harus menderita di Indonesia karena dianggap sebagai keluarga PKI. 


Lintang Utara Suryo adalah putri cantik dan pintar dari pasangan Dimas dan Vivenne. Ia menguasai tiga bahasa: Perancis, Inggris dan Indonesia. Cita-cita Dimas untuk menjejak ke tanah air diwakili oleh Lintang anaknya yang harus merampungkan tugas akhir studi strata satunya dengan membuat sebuah film dokumenter bertemakan pergumulan dan penderitaan keluarga orang-orang yang terlibat maupun dituduh sebagai anggota PKI.  Lintang berhasil mendapatkan visa ke Indonesia atas bantuan Narayana Lavebre (kekasihnya) dan teman-temannya. Mereka memasukkan nama Utara sebagai nama keluarga Lintang dan membuang nama Suryo dalam formulir pendaftaran visa milik Lintang.


Lintang pulang ke Indonesia pada saat-saat yang berat. Ayahnya, Dimas Suryo, sedang mengidap cirrhosis, penyakit yang dirahasiakan Dimas pada Lintang. Tidak hanya itu, keadaan politik dan ekonomi di Indonesia sedang memanas, yakni pada kisaran bulan Mei 1998. Di Indonesia, ia ikut mengalami peristiwa Mei 1998, yakni kerusuhan besar, penganiayaan terhadap etnis Tionghoa dan jatuhnya rezim Orde Baru, yang telah “menghadiahi” keluarga besar mereka dengan sebuah cap besar: DISKRIMINASI. Di Indonesia, ia harus mendengar kisah pedih dari keluarga orang-orang yang dicap terlibat PKI. Ia mendengarkan pedihnya ungkapan tante Surti Anandari yang mengalami pelecehan seksual pada saat diinterogasi. Ia merasakan kepedihan ketika ayahnya dimaki-maki oleh golongan “elit” yang mencicipi gelimang harta dari rezim orde baru. Ia merasakan pergumulan keluarga pamannya, Aji Suryo yang mengalami diskriminasi untuk mendapat pekerjaan di instansi pemerintahaan. Kisah hidup Lintang menjadi semakin menarik dengan bumbu kisah cinta segitiga yang dialaminya dengan Narayana dan Alam Sagara.


Alam Sagara adalah putra bungsu dari Surti Anandari (mantan kekasih Dimas) dan Hananto Prawiro. Laki-laki tampan ini memikat hati Lintang dalam cinta pada pandangan pertama. Ialah yang membantu lintang membuat film dokumenter itu dengan menghubungkan Lintang pada para korban dan tokoh-tokoh perjuanan Hak Asasi Manusia. Keterlibatannya dalam perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia, membuatnya memiliki jejaring dengan berbagai tokoh penting seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra dan tokoh-tokoh lainnya. Lintang dan Alam terlibat dalam pengejaran intel Orde Baru yang mengincar Alam sebagai targetnya. 


Tidak mudah untuk menceritakan kekayaan novel ini dalam sebuah tulisan singkat. Dari novel ini, saya belajar sisi lain sejarah dari perspektif orang-orang yang mengalami diskriminasi. Selama ini, orde baru memanipulasi dan menumpulkan daya kritis rakyatnya dengan membentuk sebuah narasi historis tunggal dari sudut pandang P.E.N.G.U.A.S.A.  Mereka yang disebut penguasa memercikan roh kebencian dan roh diskriminatif pada mereka dan keluarga mereka yang dimasukkan ke dalam kategori pelaku G.30. SPKI. Saya ingat setiap tanggal 30 September, diputar film tentang penembakan jendral yang dilakukan oleh anggota PKI, tanpa pernah menceritakan bagaimana pergumulan mereka dan orang-orang tak bersalah yang dianggap terlibat dalam pergerakkan ini. Di samping itu, dari novel ini saya juga mencicipi kebudayaan Indonesia yang berharga yakni kisah-kisah pewayangan Mahabarata dan berbagai kutipan dari pujangga Indonesia. Kekayaan budaya dan karya ini perlu diketahui oleh kaum muda bangsa Indonesia. Demi menimbulkan hasrat penasaran, saya tidak akan menceritakan detilnya dalam tulisan ini. Akhirnya, saya merekomendasikan para pencinta novel dan orang yang baru mau mencintai sastra untuk mengalami apa yang saya rasakan: terjun ke dalam pusaran imajinasi apik dalam novel berjudul Pulang.


Judul : Pulang

Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : Desember 2012


Emsiseyar
Januari 2013, 
dalam keheningan rumahku di Bandung 
rumah dan kota yang selalu membuat saya ingin pulang.

The Meaning of Christmas


Tulisan berikut ini merupakan refleksi Natal yang saya buat pada tahun 2011 lalu. Versi bahasa Inggris ini saya kirimkan ke beberapa teman di luar negeri yang mengikuti pertemuan internasional kaum muda Eropa di Berlin, Jerman pada tanggal 28 Desember 2011 hingga 2 Januari 2012.
  
What is the meaning of Christmas?

For me the meaning of Christmas this year is about to dare to take a risk of trust. I learn this especially from Mary, the mother of Jesus. At that time, Mary is a young girl. One thing that make me amaze is that this young girl dare to take a risk to accept the gift from God: conceiving a child which is come from the Holy Spirit. Imagine, one day suddenly somebody come to you and say that you will conceiving a child which is come from the Holy Spirit. So weird isn't it? Perhaps spontaneously you will cease him out or you simply refuse because this is ridiculous and doesn't make any sense. 

In the other hand, imagine how big is the risk. At that time, a woman who have a child out of marriage will get a very heavy punishment, even a capital punishment. But Mary did it. She dare to take a risk with deep self-surrender to God. She said, "Here I am, the servant of the Lord, let it be with me according to your word." (Luke 1:38). We can rise a question, why Mary decided to accept this "risky gift"? Do she have a good reason to do that? I wondering if we ask her this question at that time, she simply reply, "I don't know neither. All I want to do now is to keep these things in my heart and I WILL SEE..." :-) 

By the way, I discover, in fact the one who dare to take a risk of trust first is God Himself. Yes, God dare to take a risk to entrust His only Son to a young girl...to us, the human being... God dare to take a risk of being refused (it was very make sense if Mary refuse to conceiving a child), of being born in the very poor place in the world (not in luxury and comfort hospital)... even the risk of being crucified.

Nowadays, many people so fear to take "a risky decision". Our society tend to avoid the "risky decisions". The important things are security and safety. "Take decision which is the most less risky," they always suggest us. If you dare to take "a risky decision" they will say, "you are insane". But life is always risky isn't it? We only live once on this earth, so let's dare to take a risk of trust. We believe that through this "risky path", we will come to the fullness of life.    

Once again I remind myself: dare to take a risk of trust in this life... do it with a deep self-surrender to God, just like Mother Mary did.

I wish you a good meeting in Berlin.

I also wish you a Merry Christmas and happy new year. May we can welcome Christ in our life without being fear of the risky things... May Christ fill our heart with peace and joy. (rrb)

Jumat, 07 Desember 2012

Natal Sebagai Momen Keramahtamahan


Sekitar sepuluh hari yang lalu (2 Desember 2012) Pak Joas Adiprasetya memuat sebuah tulisan yang berjudul, “Natal Perdana: Ruang Keramahtamahan” di Facebook.[1] Menurut saya, tulisan tersebut menarik karena mencoba memberikan pemaknaan alternatif atas kisah Natal, sebuah pemaknaan yang bertolak dari perspektif keramahtamahan (hospitality). Paparan saya berikut ini merupakan apresiasi atas tulisan Pak Joas tersebut.

Pertama-tama, ada upaya Pak Joas untuk “merehabilitasi” kesan hostility (sikap bermusuhan) dari pemilik rumah penginapan dalam kisah kelahiran Yesus versi Injil Lukas (Lukas 2:1-7).[2]

Secara umum, saya memiliki kesan yang kuat bahwa setiap kali kisah kelahiran Yesus dibacakan, yang muncul dalam benak para pendengarnya tentang pemilik penginapan adalah tokoh antagonis yang tidak ramah. Saya juga ingat, dalam sebuah kesempatan latihan kontemplasi Ignasian tentang kisah kelahiran Yesus, dalam imajinasi saya muncul hal serupa: tokoh pemilik penginapan yang tidak ramah. Dalam kontemplasi Ignasian memang imajinasi berperan penting. Namun sekarang saya bertanya-tanya, kok bisa imajinasi saya “menciptakan” tokoh pemilik penginapan yang tidak ramah? Sebenarnya dalam imajinasi saya, tokoh pemilik penginapan tersebut bukan hanya tidak ramah, tetapi menolak bahkan mengusir Maria dan Yusuf. Lebih jauh, ternyata semua pemilik penginapan di Betlehem juga bersikap demikian. Maka terjadilah hal naas ini: Maria dan Yusuf selalu mengalami penolakan setiap kali mereka mendatangi sebuah tempat penginapan. Menarik bahwa dalam sebuah kesempatan lain, saya menyaksikan imajinasi tersebut ditampilkan dalam tablo Natal. Sekali lagi saya bertanya-tanya, mengapa imajinasi tersebut muncul? Bisa jadi karena prasangka bahwa orang Israel itu jahat atau pandangan bahwa dunia ini memang sejak semula menolak Tuhan.

Saya bersyukur karena ketika kuliah Teologi, saya diajar untuk membaca Alkitab dengan cermat dan kritis. Dengan demikian, selalu ada kesempatan untuk meninjau kembali pandangan-pandangan yang beredar, apakah memang begitu yang tertulis di dalam teksnya atau jangan-jangan hanya “tambahan” dari pembacanya. Nyatanya, sebagian besar imajinasi saya tersebut tidak tertulis di dalam Injil Lukas. Dalam Lukas 2:7 tertulis, “dan ia [yaitu Maria] melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Tidak ada dikatakan tentang penolakan dari pemilik penginapan. Paling banter, kita hanya dapat menduga-duga dari kenyataan bahwa bayi yang baru dilahirkan tersebut dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di dalam palungan. Bahwa palungan adalah tempat makanan hewan, memang dengan mudah membuat para pembaca zaman sekarang membayangkan bahwa Yesus dilahirkan di tempat yang tidak wajar dan tidak layak. Namun kalau hanya sampai di situ saja pertimbangannya, dengan mudah kita akan terjebak di dalam sikap yang “anakronistis”. 

Setidaknya, kita juga mesti mempertimbangkan konteks bangsa Israel pada masa itu. Sebagai bangsa jajahan Romawi, sebagian besar rakyat hidup di dalam kemiskinan yang parah. Ada banyak hal yang dianggap “wajar” oleh orang miskin, namun dalam pandangan orang yang tidak miskin dianggap hal yang “tidak wajar”. Sebagai pembanding, pada masa sekarang ini pun masih banyak rumah-rumah orang miskin yang sangat sederhana, namun dalam pandangan orang yang tidak miskin, rumah-rumah tersebut bukanlah rumah dan tidak layak huni. Saya mungkin melangkah terlalu jauh, tetapi saya menduga jangan-jangan, sebenarnya bayi yang dibungkus lampin dan dibaringkan di dalam palungan merupakan hal yang “lazim” di kalangan orang miskin pada masa itu, apalagi kalau memang sedang dalam keadaan darurat. Sebenarnya sih yang terjadi biasa-biasa saja dan bisa dimaklumi, namun kitanya saja yang cenderung mendramatisir dan beprasangka buruk. Lagi pula, perhatikanlah wajah-wajah Maria, Yusuf dan bayi Yesus di kartu-kartu Natal. Tidak tampak bahwa mereka sedang susah. Sebaliknya, wajah-wajah mereka tampak begitu damai. Dan tidak hanya wajah-wajah mereka saja, wajah-wajah domba dan sapi di tempat itu juga tampak damai. Well, mungkin ini hanya kebetulan saja dan artifisial…:)

Dalam tulisannya tersebut, Pak Joas tidak hanya berpedoman pada imajinasi belaka. Ia juga melakukan rekonstruksi atas kisah kelahiran Yesus yang dipaparkan teks Injil Lukas. Hasilnya, Yesus tidak dilahirkan di sebuah kandang yang hina, melainkan di ruangan bawah dari sebuah rumah. Menurut Pak Joas, istilah kataluma dalam Lukas 2:7 lebih tepat diterjemahkan “ruang tamu” atau “ruang atas” (terjemahan LAI: “penginapan”; istilah ini juga dipakai di dalam Lukas 22:12). Dengan mempertimbangkan bahwa pada masa itu lazimnya para perantau mengunjungi rumah sanak saudara mereka, maka disimpulkan bahwa kedatangan Maria dan Yusuf bukan untuk mencari penginapan umum, melainkan untuk menginap di rumah seorang sanak saudara. Namun ternyata rumah tersebut telah penuh sesak oleh sanak saudara yang lain. Dalam keadaan darurat semacam itu, demi privasi Maria dan Yusuf digunakanlah “ruang bawah”, yakni ruang di mana biasanya pemilik rumah menjaga ternak di waktu malam. Tentu ruang tersebut dibuat senyaman mungkin terlebih dahulu. Jadi, kelahiran Yesus di ruang tersebut bukan karena hostility pemilik penginapan, melainkan karena hospitality pemilik rumah. Menurut saya, rekonstruksi tersebut membuat imajinasi Pak Joas menjadi alternatif yang plausible bagi imajinasi lain yang cenderung negatif (misalnya imajinasi saya).

Sampai di sini muncul pertanyaan, di manakah sebenarnya Yesus dilahirkan? Di kandang (pandangan tradisional), di ruang bawah rumah seorang sanak saudara (pandangan Pak Joas) atau di tempat persinggahan umum (pandangan Romo Gianto)? Sulit untuk menentukannya. Untuk sementara ini bersabar sajalah, siapa tau di waktu yang akan datang semakin banyak temuan yang memberikan kejelasan. Satu hal yang jelas, entah di manapun Yesus dilahirkan, teks Injil Lukas tidak menyatakan adanya hostility pemilik penginapan.

Akhirnya, saya juga mengapresiasi upaya Pak Joas yang mencoba mengidentifikasi tema keramahtamahan di dalam Injil Lukas. Keramahtamahan tidak hanya muncul dalam kisah kelahiran Yesus (Lukas 2), tetapi juga di dalam kisah Zakheus (Lukas 19:1-10), panggilan Lewi (Lukas 5:27-32), pengampunan seorang perempuan berdosa (Lukas 7:36-50), perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:11-32), pemberian makan lima ribu orang (Lukas 9:10-17), perjamuan malam yang terakhir (Lukas 22:7-38) dan tambahan dari saya, kisah perjalanan murid ke Emaus (Lukas 24:13-35). Hal ini tidak mesti bertentangan dengan pandangan umum di kalangan pakar Alkitab, yakni bahwa konteks Injil Lukas adalah orang yang miskin dan tersisih. Sudah sering kita mendengar tentang Allah yang berpihak kepada orang yang miskin dan tersisih. Lantas, kisah kelahiran Yesus di tempat yang “rendah” sering dijadikan simbol solidaritas Allah. Namun, simbol yang tidak menggerakkan kita kepada praksis pembebasan yang konkrit hanya akan membuat kita me-“romantisasi” dan men-“dramatisir” kemiskinan. Hal ini jelas tidak banyak manfaatnya. Di sisi lain, keramahtamahan merupakan salah satu wujud sikap solider kita kepada mereka yang miskin dan tersisih. Keramahtamahan berarti menyambut mereka yang miskin dan tersisih; “menciptakan ruang” yang cukup bagi mereka untuk hidup dan mengaktualisasikan diri.

Ngomong-ngomong, dalam beberapa waktu belakangan ini saya merasakan pengalaman keramahtamahan di Jakarta, Bandung, Tangerang, Cirebon, Jogja, dan Purworejo. Dalam keramahtamahan insani, di sana terpancar pula keramahtamahan ilahi. Syukur kepada Allah! (rrb)   

        


[2] Romo Agustinus Giato, seorang Profesor Filologi Semit dan Linguistik di Pontificium Institutum Biblicum Roma, juga melakukan hal serupa. Romo Gianto mengatakan, “Bukan maksud Lukas mengatakan bahwa mereka tidak dimaui di mana-mana. Tempat-tempat biasa sudah penuh… . Mereka akhirnya menemukan tempat umum yang ada di setiap dusun pada waktu itu yang biasa dipakai tempat istirahat rombongan karavan bersama hewan angkutan mereka. Semacam stasiun zaman dulu… . Sekali lagi ini cara Lukas mengatakan kelahiran Yesus terjadi di tempat yang bisa terjangkau umum.” Lihat Agustinus Gianto, Dag-Dig-Dug…Byaar! Kumpulan Ulasan Injil, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), h. 101. Apa yang dikatakan Romo Gianto ini berbeda dengan rekonstruksi Pak Joas, yakni bahwa tempat kelahiran tersebut terjadi di salah satu ruangan sebuah rumah. Romo Gianto mengikis tendensi hostilitas yang muncul dalam pembacaan teks. Pak Joas bergerak lebih jauh dengan mencoba mengidentifikasi adanya hospitalitas di dalam teks.         

Kamis, 29 November 2012

Sebuah Resensi Buku



THE LOST GIRL: PENGALAMAN SEORANG KORBAN PELECEHAN SEKSUAL MELAWAN TRAUMA MASA LALUNYA

Pernahkah Anda mendengar tentang narrative healing? Narrative healing  adalah salah satu cara untuk menyembuhkan luka-luka batin melalui narasi, yakni menceritakan luka-luka itu kepada orang lain dan tidak menyimpannya seorang diri. Narrative healing dapat dilakukan melalui dua bentuk, yakni (1) dengan menuturkan pengalaman keterlukaan kita kepada orang lain dan atau dengan (2) menuliskan luka-luka kita dalam tulisan.
Bagi saya, metode ini cukup menarik. Biasanya, orang yang terluka cenderung akan menutup rapat lukanya dan tidak bersedia untuk membagikan lukanya pada khalayak ramai. Perasaan malu, tidak mudah percaya dan curiga membuat diri kita enggan untuk bercerita tentang luka batin yang kita alami. Tampakya, mengorek dan menunjukkan luka adalah sesuatu yang menyakitkan, menimbulkan kepedihan di hati. Namun, metode ini ternyata justru menolong orang untuk sembuh dari luka-luka batinnya dengan mengundang setiap orang yang terluka untuk mengakui luka-lukanya.
Saat berkeliling di Perpustakaan Umum Kota Istimewa (Yogyakarta), saya menemukan sebuah buku menarik berisi autobiografi Caroline Roberts, autobiografi seorang korban pelecehan seksual.  Caroline menggunakan metode narrative healing dalam menyembuhkan luka-lukanya. Buku ini sangat inspiratif dan layak untuk dibaca.
Caroline adalah seorang anak yang dilahirkan dari hasil perselingkuhan terselubung antara Eliizabeth Mills dan Michael Mahoney. Saat itu, Elizabeth sudah menikah dengan Albert. Saat Albert mengetahui perselingkuhan istrinya, ia mengusir istrinya dan kedua anak hasil perselingkuhannya. Setelah bercerai, Ellizabeth menikah kembali dengan Alf. Hubungan Alf dengan Caroline tidak baik. Alf dan kakak tirinya sering berlaku kasar pada Caroline. Alf dan kakak tirinya rajin memukuli Caroline dan mengata-ngatainya sebagai anak perempuan nakal. Sungguh malang nasib Caroline, pada usia 6 tahun ia hampir mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki tua yang tidak dikenalnya. Ia selamat dari pelecehan seksual itu, namun ayah tirinya menyalahkan Caroline atas apa yang ia alami.
Caroline bertumbuh menjadi gadis perempuan cantik yang memiliki wajah ganda. Ia tampak riang dan ceria di hadapan orang lain, namun sebenarnya ia sangat rapuh. Kepribadiannya tampak bertolak belakang. Di luar rumah ia menjadi anak yang periang, untuk menutupi kepedihannya.  Namun, di rumahnya ia menjadi anak yang pemberontak dan kasar.
Perjumpaan Caroline dengan Fred dan Rose West serta kecantikannya membuatnya terperangkap dalam “jeratan iblis”. Fred dan Rose adalah pasangan suami istri yang aneh. Mereka memiliki kebiasaan seksual yang aneh. Fred adalah seorang yang memiliki nafsu seksual yang liar dan tak tertahankan. Sementara itu, Rose adalah seorang biseksual. Hasratnya terhadap perempuan muncul saat ia mengandung. Sayangnya, Caroline malang tidak mengetahui kehidupan keluarga ini. Dengan polosnya, ia menerima tawaran Fred dan Rose untuk menjadi pengasuh anak-anak mereka.
Saat Caroline menjadi pengasuh, ia diperkosa oleh Fred dan Rose. Ia semakin memandang rendah dirinya. Citra dirinya hancur. Ia bahkan melakukan usaha bunuh diri. Ia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia berhasil kabur dari rumah Fred dan Rose, namun Fred dan Rose kembali menculiknya bahkan memperlakukan dirinya dengan lebih kejam. Potret dirinya semakin rusak. Ia sebenarnya hanya ingin dicintai dengan tulus, namun ia tidak merasa pernah mendapatkannya. Tidak ada orang luar yang mengetahui pergumulannya. Ia mengubur lukanya, agar tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia terjebak dan terjerat, tak tahu bagaimana cara melepaskan diri.
Singkat cerita, ia berhasil meloloskan diri dan melaporkan kekejaman Fred dan Rose ke polisi. Namun, ia belum memaafkan dirinya. Pengalaman traumatis yang tidak ia selesaikan membuat dirinya menjadi pencemburu. Hubungannya dengan lawan jenis sering menemui kegagalan. Ia berkali-kali pacaran dan putus. Intuisinya yang tajam membuat ia semakin menderita karena ia berkali-kali menyadari bahwa pacarnya hanya memanfaatkannya untuk bercinta dengannya. Pada saat ada orang yang dengan tulus mengasihinya, orang tersebut meninggal pada saat hendak mengunjungi Caroline di hari ulang tahunnya. Pengalaman itu membuat Caroline merasa bahwa dirinya adalah seorang pembawa sial.
Citra diri Caroline menjadi semakin rusak ketika ia memenangkan kontes modeling yang disarankan ibunya. Ibunya berpikir bahwa kepercayaan diri Caroline akan membaik jika ia memenangkan kontes tersebut. Nyatanya, Caroline semakin merasa hancur. Pada saat ia memenangkan kontes tersebut, para wartawan menghancurkan citra dirinya dengan mengkonfirmasi berita pelecehan seksual yang pernah dialaminya dulu. Ia merasa sangat terpuruk dan tidak dapat menolong dirinya sendiri. Ia menjadi orang yang semakin bersifat curiga pada orang lain dan gemar menyakiti orang-orang yang mengasihinya.
Caroline yang terpuruk, perlahan-lahan mulai bangkit setelah dia mengalami pengalaman spiritual di sebuah gereja. Tuhan memulihkan citra dirinya melalui pengalamannya bersama dengan kelompok “lingkaran pengembangan” di gereja itu. Ia menyadari bahwa dirinya berharga. Ia menyadari bahwa masih ada orang-orang yang begitu mengasihinya. Ia pun menyadari bahwa ia tidak sendirian dan ia menerima balutan luka dari Tuhannya.
Caroline memerlukan waktu 10 tahun untuk menuliskan buku ini. Waktu yang tidak singkat. Ia mengatakan bahwa buku ini menjadi terapi baginya, seperti yang kita sebut di atas sebagai narrative healing. Ia sekarang dapat meneruskan hidupnya bersama dengan Tuhan. Ia kini berani mengambil keputusan dalam hidupnya. Trauma dan luka batinnya kini telah sembuh. Tuhan menggunakan gereja dan metode narrative healing untuk menyembuhkan lukanya.

Yogyakarta, 29 November 2012
dalam sebuah permenungan
ems


KEPUSTAKAAN:
Judul buku    : THE LOST GIRL: PENGALAMAN SEORANG KORBAN PELECEHAN SEKSUAL MELAWAN TRAUMA MASA LALUNYA
Penerbit         : Gramedia
Penulis          : Caroline Roberts
Jenis tulisan  : Autobiografi
Tahun terbit   : 2007

Jumat, 23 November 2012

Imajinasi Pelenyap Kesepian




The world’s greatest tragedy is unwantedness,
The world’s greatest disease is loneliness
Mother Teresa


Apa itu kesepian? Kesepian adalah sebuah perasaan mengerikan yang dapat menghancurkan kita. Ya, perasaan ketika kita merasa merindukan sesuatu atau seseorang, namun kita merasa bahwa tidak akan ada orang yang merindukan, memahami dan mempedulikan kita. Namun, kesepian tidak sama dengan kesendirian. Aku senang menyendiri, namun aku tidak merasa sepi. Namun, di tengah keramaian aku dapat merasakan kesepian. Ya, kesepian tidak selalu hadir dalam kondisi sunyi, tanpa suara. Ia dapat mencengkrammu dalam keramaian ketika bising knalpot motor dan mobil menunjukkan kegagahannya. Begitu menyeramkannya cengkraman kesepian ini, sehingga aku pernah merasa bahwa kesepian ini melilit jiwaku. Aku ingin lari, namun tak dapat. Aku mencoba menari dalam keramaian, namun kini yang tertinggal hanya kesepian. Hampa! Maka dari itu, tidak salah jika Bunda Teresa mengatakan bahwa kesepian adalah penyakit terbesar di dunia.
Kesepian dapat dialami oleh siapapun, baik itu orang yang miskin maupun kaya. Kesepian dapat menghinggapi umat maupun para “pemimpin” umat. Dalam jalan yang kutekuni saat ini, aku pernah bertanya pada Tuhan, “Bagaimana aku dapat menemani orang yang kesepian jika aku sendiri kesepian?” Dalam sebuah refleksi imajiner, aku membayangkan sebuah percakapan antara Kristus dan diriku. Kristus tersenyum seraya menjawab pertanyaanku, “Aku juga pernah mengalami kesepian saat bergumul di taman Getsemani, Nak. Saat aku berharap murid-muridku menemaniku, ternyata mereka tertidur.” Aku terisak sambil mengeluh padaNya, “Ya Tuhan, aku pun demikian. Aku pernah merasakan ketiadaan kehadiran orang-orang yang kuharapkan mendukung dan menemaniku pada saat aku terpuruk. Aku kesepian.” Ia tersenyum mengangguk dan aku pun membalas senyumnya dalam imajiku karena Ia lebih dulu merasakan apa yang kurasakan.
Sambil memandang wajahNya, dengan tangan terbuka untuk menanti jawaban aku bertanya, “Tuhan apa yang lakukan kala itu? Kala kesepian mendedahkan kegeramannya di hadapan wajah kita, dapatkah kita sintas ataukah kita menyerah dan terlarut dalam pusaran kesepian? Bagaimanakah aku dapat terbebas dari kesepianku?”
Tiba-tiba aku teringat pada sebuah analisis yang dilakukan oleh Paul Tillich tentang tingkat-tingkat kesepian dalam diri manusia. Pada akhirnya Tillich menyimpulkan bahwa kesepian itu adalah suatu hal yang bersifat eksistensial dalam diri manusia. Kesepian menjadi tanda keterasingan manusia. Manusia teralineasi dari cinta kasih. Bagi Tillich, salah satunya cara untuk mengatasi kesepian adalah dengan merekatkan diri pada Sang Illahi. Manusia tak mampu melepaskan diri dari kesepiannya. Hanya Tuhanlah yang mampu membuatnya merasakan kehangatan, lepas dari kesepiannya.
Kini, kulihat gambaran Kristus yang berdoa dengan darah yang menetes. Kurasakan kelekatan Kristus dengan Bapa-Nya, an invisible person. Pribadi yang tidak terlihat itu merangkul-Nya dan memberikan-Nya kekuatan. Aku mengerti, bahwa doa adalah sebuah media untuk merasakan kehangatan bersama Bapa, sehingga kesepian pun lenyaplah. Kehangatan cinta kasih Bapa membantu kita keluar dari kesepian untuk menemani mereka yang juga kesepian. Kini kesepian yang kurasakan pun lenyap bersamaan dengan kalimat penutup sebuah doa dalam imaji bersama Kristus. Kehangatan Kristus melingkupi kita di malam ini dan kesepian pun lenyaplah…

emsiseyar
saat meninggalkan kesepian menuju kehangatan