Minggu, 21 Oktober 2012

PERJUMPAAN GEMBALA RINGKIH DENGAN DOMBA SULIT


Sebab Sebuah Pencarian....
Dalam ranah pelayanan gerejawi, salah satu hal yang dapat membuat seorang gembala frustrasi adalah keberadaan domba-domba sulit. Bayangkan, apa jadinya jika gembala itu harus harus berjumpa dengan 10, 20, 30, bahkan ratusan domba sulit di dalam ranah pelayanannya ? Apakah sang gembala harus bilang WOW? J
Dalam masa praktik jemaat beberapa waktu lalu, saya menjumpai beragam tipe domba sulit. Seringkali orang-orang yang suka mengkritik secara pedas digolongkan ke dalam kelompok domba sulit. Faktanya, domba sulit tidak hanya sebatas orang yang suka mengkritik dengan tajam. Ada domba sulit yang hanya suka memerintah gembalanya dan menjadikan gembalanya sebagai pembantu. Ada domba sulit yang mengatakan sanggup untuk melakukan tugas tertentu tapi tidak melakukan tugasnya. Ada domba sulit yang suka menggosip. Ada domba sulit yang marah dan lari jika idenya tidak diterima. Ternyata domba sulit itu pun memiliki keanekaragaman tipe.
Tidak dapat dipungkiri, hati ini sering tersakiti ketika berjumpa dengan domba-domba sulit. Namun, di tengah-tengah rasa sakit itu, saya bertanya pada Tuhan. Bagaimana saya harus menghadapinya? Bagaimana saya dapat bekerjasama dengan orang-orang sulit ini agar dapat membuahkan buah yang positif? Dalam pergumulan itu, saya teringat dengan sebuah buku tipis karangan Alm. Pdt. Eka Darmaputera yang saya pernah beli, namun belum sempat saya baca. Buku ini berjudul 10 Tipe Orang Menyebalkan dan Cara Menghadapi secara Alkitabiah. Saya juga mencoba menjilati remah-remah dari lautan informasi luas namun terbatas lewat sebuah pencarian pada google books dengan frasa kunci “dealing with difficult people”. Di sana saya menemukan sebuah buku menarik yang berjudul Dealing with difficult people: Handling problem people in your life yang diedit oleh Jill Briscoe, seorang istri pendeta. Saya merekomendasikan dua buku ini untuk dibaca oleh para gembala dan keluarganya yang sedang merasakan keringkihan ketika menghadapi para domba sulit di jemaatnya.

Mengubah Cara Pandang Siapa? 
Dalam menulis bukunya yang berjudul 10 Tipe Orang Menyebalkan dan Cara Menghadapi secara Alkitabiah, Darmaputera diinspiasikan oleh Rick Brinkman dan Rick Kirschner, dua orang yang menulis buku Dealing With People You Can’t Stand. Kedua dokter ini mendefinisikan orang-orang yang menyebalkan sebagai orang-orang yang tidak melakukan apapun yang kita sukai, namun melakukan apapun yang tidak kita inginkan atau bahkan kita larang. Brinkman dan Kirscher mengusulkan sebuah strategi untuk berhubungan dengan orang-orang menyebalkan itu, yakni dengan kesediaan yang tulus dari diri kita untuk membangun jembatan terhadap mereka yang menyebalkan. Membangun jembatan dimulai dengan membangun kepercayaan. Kepercayaan hadir karena adanya ketulusan dan sikap mau mendengarkan. Dengan demikian, kita harus bersikap pro-aktif terhadap mereka yang menyebalkan, bukan menghindari mereka (Darmaputera 2010, 1-12).
Respons Darmaputera terhadap ide dari Brinkman dan Kirschner sangat menarik. Ia mengatakan bahwa jika kita berhadapan dengan orang “menyebalkan”, paling sedikit berusahalah agar kita tidak “menyebalkan” bagi mereka (Darmaputera 2010, 12). Menurut saya, ide ini sangat menarik. Ini berarti kita harus mengubah cara pandang kita terlebih dahulu agar dapat berhadapan dengan orang yang “menyebalkan”.    
Jill Briscoe, editor buku Dealing with difficult people: Handling problem people in your life, berhasil mengubah sudut pandangnya terhadap orang sulit setelah bergumul selama 30 tahun. Selama rentang waktu itu, istri pendeta ini merasa kelelahan karena ia tidak henti-hentinya mendengar kritikan dari domba-domba sulit terhadap suaminya. Dengan kreativitasnya, pada bagian pendahuluan ia membuat kata difficult menjadi sebuah kiat untuk menghadapi domba-domba sulit (Briscoe 2003, v).
D – deliberately. Go out of your way to make friends with difficult people. It’s amazing what a friendships can do. More people are lonely.
I – investigate what the Bible says about the problem, then apply the truth you learn
F – forgive them for being difficult.
F – forgive them again!
I – Intercede for them. It’s hard to be irritated with someone, when you’re in the presence of God.
C – Confront the difficulty and try to talk with them about it. A third part may help to reffere if necessary.
U – Understand “why” the person is behaving like he or she is.
L – Love them practicaly. Do something for them they don’t deserve
T – Thank God daily for the difficult people in your life. Praise change relationships. You’ll see.

Bukankah permainan kata ini adalah contoh yang menarik? Kata difficult mendapat sebuah kreasi sehingga difficult tidak lagi menjadi difficult, tetapi menjadi sebuah kata yang sarat makna dan kiat jitu untuk menghadapi si difficult. Dengan mengubah cara pandang kita terhadap domba-domba yang sulit, kita akan memiliki belas kasih ketika berhadapan dengan mereka.
            Saya sendiri pernah berjuang melawan sudut pandang saya terhadap domba yang menyebalkan semacam ini. Ada seorang jemaat yang entah mengapa menyebarkan berita bohong tentang saya. Dia mengatakan bahwa saya menyakiti dia dengan sengaja. Awalnya saya tidak tahu bahwa gosip ini sudah tersebar, sampai salah seorang jemaat memberi-tahu saya. Saya terkejut karena saya merasa tidak pernah melakukan kekeliruan itu padanya. Banyak jemaat yang menuntut saya untuk meminta maaf kepadanya. Setelah merenung-renung dan mendapatkan masukkan dari para sahabat, saya memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya. Ternyata, pada saat perkunjungan itu, saya mengerti mengapa ia menyebarkan gosip itu. Ya, dia hanya ingin saya memperhatikannya. Kehidupannya suram. Ia dibuang oleh orang tuanya yang kaya raya karena ia adalah seorang difable. Ia tidak menikah, hidup sendirian dalam keterasingan karena ia merasa bahwa semua orang membencinya. Saat saya datang ke rumahnya, tanpa mengucapkan kata maaf, ia sudah tersenyum. Ia membiarkan saya masuk ke rumahnya, menemaninya mengaduk adonan kue, sambil mendengarkan kisahnya yang menyedihkan. Tuhan pun bekerja, Ia mengubah sudut pandang saya terhadap domba menyebalkan ini. Kemarahanku telah diubahNya menjadi rasa kasih dan iba terhadap domba menyebalkan ini.  

Trik menghadapi Mereka: “Mendesis, bukan menggigit”

           Ajahn Brahm, dalam Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya I, menceritakan sebuah kisah yang menarik tentang seekor ular jahat. Ular jahat ini bertobat setelah mendengar ceramah di vihara. Ia bersumpah untuk tidak menggigit orang lagi. Awalnya banyak orang yang tidak percaya. Mereka tetap merasa takut pada mantan ular jahat itu. Hingga satu saat, ada pemuda yang berani menggoda ular ini, namun ular itu hanya tersenyum dan tidak menggigitnya. Orang-orang di sekitar ular itu mulai yakin bahwa ular itu sudah benar-benar bertobat. Singkat cerita orang-orang di sekitar ular itu mulai menghina ular ini bahkan melemparinya sampai ia kesakitan. Mantan ular jahat ini tetap diam sampai pada batas kesabarannya. Akhirnya, ia berkeluh kesah pada ular suci. Ular suci tersenyum, lalu ia berkata, “Saya hanya melarangmu untuk tidak menggigit, namun itu bukan berarti bahwa kamu tidak boleh mendesis.” Dengan demikian, memiliki kasih kepada domba yang menyebalkan bukan berarti membiarkan mereka berlaku seenaknya pada kita. Memiliki belas kasih dapat berarti “mendesis” kepada mereka, namun tidak “menggigit” mereka.
            Darmaputera memaparkan kiat-kiat mendesis dengan baik untuk ketika menghadapi domba-domba yang menyebalkan. Kiat-kiat ini tersebar dalam seluruh tulisannya. Namun menurut saya, Darmaputera ingin mengatakan bahwa kita harus mengenali dulu tipe orang menyebalkan mana yang kita hadapi. Perlu diingat bahwa ada banyak tipe orang yang menyebalkan. Darmaputera menyebut ada 10 tipe orang menyebalkan, yakni tipe “tank”, tipe “sniper”, tipe “granat”, tipe “mister tahu segala”, tipe “saya juga tahu”, tipe “manusia seribu janji”, tipe “makhluk negatif”, tipe “barangkali”, tipe “tanpa ekspresi dan tipe “tanpa opini” (Darmaputera 2010, 34-169). Untuk menghadapi kesepuluh tipe itu, kita perlu menggunakan strategi khusus. Pendekatan yang digunakan untuk tiap tipe berbeda-beda. Cara “mendesis” (dalam bahasa Briscoe: mengkonfrontasi sifat dan pemikiran mereka) terhadap mereka pun berbeda-beda dan tidak dapat disama-ratakan. Sikap inilah yang disebut cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Penutup

“Gembalakanlah domba-domba-Ku!”
kata Yesus kepada Petrus

Tiga kali Yesus mengatakan hal ini kepada Petrus. Tuhan Yesus meminta Petrus, dan juga kita sebagai para gembala yang ringkih, untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Dia tidak mengatakan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku yang mau diatur dan tinggalkanlah domba-domba-Ku yang menyebalkan!” Ini berarti kita harus mengembalakan semua domba-domba-Nya, termasuk domba yang menyebalkan. Demikian juga dengan Kristus, Ia tidak meninggalkan domba yang hilang, ia justru mencari domba yang terhilang.
            Pada akhirnya, saya berefleksi bahwa kita tidak akan mampu menghadapi domba-domba yang menyebalkan tanpa tuntunan tangan Tuhan. Kiranya Tuhan menolong para gembala untuk memiliki hati yang penuh kasih untuk mengasihi domba-domba yang menyebalkan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk bersikap bijaksana ketika berjumpa dengan domba-domba yang menyebalkan.

Tuhan, tolonglah kami untuk menggembalakan domba-domba yang menyebalkan!
Tuhan, gembalakanlah kami jika kami pun menjadi gembala yang menyebalkan!
Amin.


Sumber: 
Brahm, Ajahn. 2009. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1. Jakarta: Awareness Publication
Briscoe, Jill. 2003. Dealing with difficult people: Handling problem people in your life. Eastbourne: Kingsway Communication.
Darmaputera, Eka. 2010. 10 Tipe orang Menyebalkan dan Cara Menghadapi Secara Alkitabiah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

 emsiseyar


Sabtu, 20 Oktober 2012

Serving My Best: Mengupayakan Pelayanan yang Optimal

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu tantangan di dalam kehidupan bergereja adalah semangat melayani yang semakin menurun. Keengganan anggota-anggota jemaat untuk melibatkan diri di dalam pelayanan gerejawi merupakan salah satu indikasi terjadinya hal ini. Tidak mengherankan kalau salah satu topik pembinaan gerejawi yang sering dibahas berkaitan dengan membangun semangat melayani. Asumsinya, kalau para peserta pembinaan dapat memiliki semangat melayani yang baik, maka tentulah mereka juga akan mampu mengupayakan pelayanan gerejawi yang optimal.

Dalam setahun belakangan ini, setidaknya telah dua kali saya diminta untuk memberikan materi pembinaan yang bertujuan untuk membangun semangat melayani di komisi remaja dan pemuda. Sebenarnya, saya juga bingung hendak menyiapkan materi yang seperti apa. Meskipun (saya rasa) sebelumnya saya pernah mengikuti pembinaan gerejawi dengan topik semacam itu, saya masih juga belum memiliki gambaran yang jelas tentang bagaimana membangun semangat melayani. Paling banter saya hanya bisa mengolah materi tersebut berdasarkan pengalaman pribadi. Padahal pengalaman pribadi saya masih sangat minim dan saya harus mengakui juga bahwa saya sendiri masih suka angin-anginan di dalam pelayanan. J

Dalam menyiapkan materi tersebut saya mulai dengan upaya untuk memahami konteks jemaat. Jalan pintas yang saya tempuh untuk mencapai hal ini adalah dengan menanyakan kepada para pengurus komisi apa yang merupakan pergumulan mereka. Namun, ternyata mereka pun sulit menjelaskan apa yang sedang mereka alami. Yang mereka tahu adalah bahwa saat ini semangat melayani di komisi pemuda/remaja sedang menurun. Dengan informasi yang sangat terbatas tersebut, saya pun cenderung berspekulasi. Yang jelas, saya tidak ingin memberikan materi yang “hanya” berupa ceramah, renungan, khotbah atau semacamnya. Selain itu, dalam benak saya yang penting adalah bagaimana agar dapat memberikan materi yang menarik. Di sini, patut disayangkan, masalah relevansi tidak lagi menjadi perhatian utama.

Dalam kesempatan pertama, materi yang saya berikan lebih merupakan penjelasan tentang beberapa bentuk pelayanan gerejawi yang disertai dengan sharing dan latihan-latihan (misalnya: bagaimana menjadi lektor yang baik, bagaimana menjadi pemandu liturgi, dst.). Dibalik materi tersebut ada asumsi bahwa yang membuat mereka enggan adalah kebingungan untuk memulai melibatkan diri di dalam pelayanan gerejawi. Itulah sebabnya, penting untuk memperkenalkan kepada mereka bentuk-bentuk pelayanan gerejawi yang di dalamnya mereka dapat melibatkan diri.[1] Sedang dalam kesempatan kedua, materi yang saya berikan lebih merupakan upaya memotivasi para peserta agar bersemangat di dalam pelayanan gerejawi. Adapun pokok-pokok yang saya sampaikan antara lain: sharing dari orang-orang yang dianggap paling aktif di dalam pelayanan gerejawi, kiat-kiat memotivasi diri sendiri, dan akhirnya refleksi singkat tentang pelayanan gerejawi sebagai panggilan untuk mengikut Kristus. Sayang, dalam kedua kesempatan tersebut saya tidak menyiapkan lembar evaluasi. Akibatnya, saya tidak mengetahui apakah materi-materi tersebut “menjawab” kebutuhan mereka atau tidak.

Pengalaman-pengalaman tersebut mendorong saya untuk menggali lagi pemahaman-pemahaman yang berkaitan dengan topik pelayanan gerejawi. Belum lama ini saya membaca buku yang berjudul Serving My Best karangan Bruce Bugbee (Yogyakarta: Gloria Graffa, 2010)[2]. Dalam uraiannya, Bugbee menjelaskan tentang profil pelayanan. Profil pelayanan setiap pribadi berkaitan dengan tiga hal, yakni: karunia rohani, gaya kepribadian dan bidang keterbebanan (passion). Ketiganya perlu dikenali dengan baik kalau kita hendak mengupayakan pelayanan yang optimal. Selain itu, Bugbee juga memberikan tes praktis untuk mengetahui kira-kira karunia rohani dan gaya kepribadian macam apa yang kita miliki. (untuk tes online bisa diakses di http://glorianet.org/pptlib/smb/karuniaroh2.php dan http://glorianet.org/pptlib/smb/kepribadian.php). Dengan memahami kerangka uraian Bugbee ini, saya semakin menyadari bahwa selama ini pandangan saya cenderung terpaku hanya kepada satu aspek saja, yakni pada bidang keterbebanan (passion). Meskipun apa yang dipaparkan Bugbee ini menarik, namun saya curiga dengan tes praktis karunia-karunia Roh yang disusunnya. Sangat mungkin hal ini dikarenakan adanya perbedaan pemahaman teologis tentang karunia-karunia Roh. Kesan saya, pemahaman Bugbee tentang karunia-karunia Roh terbatas hanya kepada apa yang tertulis di dalam Alkitab. Hal ini tentu bisa diperdebatkan. Namun, hingga saat ini saya berpandangan bahwa Roh Kudus sebagai Roh yang kreatif mampu berkarya melampaui apa yang tertulis di dalam Alkitab.

Lebih lanjut, upaya yang dilakukan Bugbee ini dapat dibandingkan dengan paparan Rick Warren tentang konsep SHAPE di dalam bukunya, The Purpose Driven Life (Grand Rapids: Zondervan, 2002; Terjemahan Indonesia oleh Paulus Adiwijaya, Malang: Penerbit Gandum Mas, 2009, cetakan ke-28)[3]. SHAPE merupakan akronim dari Spiritual gifts (karunia-karunia Roh), Heart (hati), Abilities (kemampuan), Personality (kepribadian), Experience (pengalaman). Warren menguraikan pokok ini dalam tiga bab (bab 30-32). Tampak bahwa ada lima aspek yang diajukan oleh Warren. Tiga di antaranya juga disebutkan oleh Bugbee. Namun, masih ada dua hal yang ditambahkan Warren, yakni kemampuan (Abilities)[4] dan pengalaman (Experience). Hal lain yang membedakan pandangan Bugbee dan Warren adalah bahwa tampaknya Warren tidak terlalu optimis dengan penggunaan tes-tes praktis. Warren berpandangan, “Cara terbaik untuk menemukan karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan Anda adalah melakukan percobaan dengan berbagai bidang pelayanan.” (hlm. 274-275).[5]

Tentu menarik untuk menjajaki lebih lanjut pandangan Bugbee dan Warren. Namun saya memilih untuk mencukupkannya sampai di sini. Saya ingin segera mengakhiri tulisan ini dengan memaparkan dua komentar penutup.

Pertama, menurut saya baik pandangan Bugbee maupun Warren cenderung bergerak di tataran individual-personal. Ini merupakan masukan yang berharga bagi pemahaman gereja-gereja Protestan pada umumnya. Saya bisa keliru, namun saya memiliki kesan yang kuat bahwa pandangan gereja-gereja Protestan tentang pelayanan gerejawi yang optimal cenderung bergerak di tataran komunal-organisasional. Akibatnya, perhatian kepada individu-individu kurang optimal bahkan bukan tidak mungkin mereka diperlakukan seakan-akan sebagai makhluk-makhluk anonim. Padahal individu-individu itulah yang merupakan subjek pelayanan gerejawi. Mereka adalah kawan sekerja Allah di dalam pelayanan kasih. Meskipun begitu, kita juga mesti mewaspadai agar pelayanan gerejawi jangan sampai menjadi sedemikian individualistik.        

Kedua, pemahaman dan pengenalan konteks penting untuk mengupayakan pelayanan yang optimal. Konteks mencakup pengalaman individual sampai dengan konteks budaya. Kalau kita menemukan adanya gejala semangat melayani yang semakin menurun, maka kita mesti menyadari bahwa penyebabnya bukan hanya soal kemalasan atau kalau merujuk kepada tulisan saya yang sebelumnya, “mentalitas suka di-layani ketimbang me-layani”. Di sini kita juga harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial yang berkaitan dengan konteks. Maka, penelitian dan pemahaman yang baik atas konteks penting untuk dilakukan. Ironisnya, proses inilah yang sering diabaikan atau “dilompati”. (rrb)




[1] Saya memahami hal membangun semangat bukan hanya soal memulihkan motivasi yang lemah atau mengobarkan antusiasme di dalam diri para peserta. Ini bukan hanya soal memulihkan kondisi psikis-emosional yang sedang dilanda kebosanan/kejenuhan. Kita perlu menggali lebih lanjut apa yang sesungguhnya merupakan akar persoalan yang menyebabkan semangat pelayanan para peserta menurun. Jika tidak demikian, besar kemungkinan para peserta tampak begitu bersemangat dan termotivasi hanya selama masa pembinaan berlangsung. Ketika pembinaan telah selesai, semangat dan motivasi mereka pun “selesai”.
[2] Judul ini tampaknya merupakan parafrase dari judul aslinya: What You Do Best in the Body of Christ (Grand Rapids: Zondervan, 2008).
[3] Bnd. Erik Rees, S.H.A.P.E: Finding and Fulfilling Your Unique Purpose for Life (Grand Rapids: Zondervan, 2008). Rees juga melayani sebagai gembala di Gereja Saddleback, gereja yang sama dengan Rick Warren.
[4] Yang dimaksud kemampuan (Abilities) adalah bakat alamiah atau yang juga sering disebut “talenta”. Tampaknya Warren mengikuti pandangan yang membedakan antara bakat alamiah/talenta dengan karunia Roh. Semua orang dianugerahi bakat alamiah/talenta tetapi hanya orang yang percaya kepada Kristus yang dianugerahi karunia Roh.

[5] Lebih lanjut Warren juga mengatakan, “Banyak buku memahami proses penemuan itu [yakni karunia rohani dan kemampuan] secara terbalik. Mereka mengatakan, “Temukan karunia rohani Anda dan kemudian Anda akan tahu pelayanan apa yang seharusnya Anda miliki. Sebenarnya hal tersebut berlaku sebaliknya.” (hlm. 275)

Rabu, 17 Oktober 2012

"Ngawurisme"


“Ngawurisme”[1]
Tulisan ini bukanlah tulisan baru. Tulisan ini juga bukan ngecipris ngalor- ngidul tok.[2] Saya mencoba menghadirkan sebuah tulisan yang dapat merangsang teman-teman untuk  berfikir dalam rangka menghargai pikiran. Ngawurisme adalah tulisan yang sudah ada di blog saya yang kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan kita, para kader.

Masih segar ingatanku tentang lagu Sujiwo Tedjo yang berjudul “Pada suatu ketika” dan “Zaman Edan”. Sebuah suguhan musik yang tidak biasa dengan lirik yang sangat menarik. Sujiwo tedjo, seorang dalang asal Jember, lulusan ITB dan pernah menjadi wartawan ini membuat lirik yang sarat dengan kehidupan manusia yang penuh kekacauan dan kemunafikan. Semua yang “berbau” dia membuat penulis semakin tertarik untuk belajar dari “gerak-geriknya” di kancah pergulatan dunia untuk menemukan sebuah kebenaran demi keadilan dan kesejahteraan penghuninya (walaupun belum sepenuhnya penulis dapatkan). Dalam lirik lagu “pada suatu ketika” ia ingin atau lebih tepatnya berharap dalam doanya agar segala kekacauan dan korban jiwa akibat ketidakadilan semakin berkurang, karena saat ini adalah “zaman edan” yang penuh dengan tangisan, pertenggkaran dan sikut-menyikut satu dengan yang lain demi kepentingan masing-masing. Kata demi kata disatukannya menjadi sebuah lirik lagu yang berasal dari sebuah permenungan atas realita yang tidak lagi terlihat indah ini. Dunia yang penuh dengan tipu mulihat dan semakin gersangnya makna persaudaraan dan toleransi. Dalam buku maupun pernyataannya dalam pertemuan-pertemuan membuat ia menjadi orang yang tidak biasa. Ia sepertinya merasa bebas dan perlu untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia melalui kata-katanya yang seringkali pedas dan menggelitik pendengar dan pembacanya. Mungkin dunia yang penuh kebencian ini membutuhkan orang-orang yang keras menyuarakan ketidakadilan demi keadilan sebab sudah sangat sulit untuk menyadarkan sebagian orang dalam dunia ini dengan hanya tegoran dan kritikan. Menurut penulis ia tidak selalu salah. Di dalam waktu yang terus berubah ini banyak cara untuk menyadarkan orang yang sudah jauh jatuh ke dalam lobang angkara murka. Tentu yang dimaksud bukan menghalalkan segala cara. Dalam berbagai perubahan itu Sujiwo Tejo muncul dalam salah satu masa, yang ia sebut zaman edan, sebagai bagian dari eksistensinya. Ia hadir melihat berbagai macam perubahan dan berbagai perubahan itu pun turut membentuk cara berfikirnya untuk menanggapi perubahan itu. Sebab, perubahan itu tidak selalu baik bagi sebuah masa yang di dalamnya manusia tidak bisa menerima perubahan itu (zaman edan). Contohnya, perubahan moral yang bisa dikatakan semakin rusak akibat dari berbagai aspek. Perubahan moral itu menghadirkan manusia yang tega untuk mencekik saudara sebangsanya sendiri melalui korupsi, kolusi dan nepotisme. Jika dihubungkan dengan teori-teori budayaan maka perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini sesungguhnya bukanlah keadaan yang harus disesalkan atau bahkan dihancurkan. Tetapi perlu diwaspadai bahwa tidak semua perubahan itu baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Tempus mutantur, et nos mutamur in illid.[3] Ini sebuah kalimat pertama yang terlihat di pendahuluan sebuah buku yang berjudul Teori-Teori Kebudayaan. Arti dari kalimat ini adalah waktu berubah, dan kita (ikut) berubah di dalamnya. Di dalam waktu yang terus berjalan itu, manusia sebagai salah satu pelaku proses melakukan berbagai macam aktifitas yang terus berubah. Dalam berbagai aktifitas itu, manusia terus berjalan mengekspresikan dirinya dalam bentuk aktualisasi diri sesuai dengan perjalanan waktu yang terus berjalan. Manusia itu akan selalu mencoba “menempatkan dirinya” dalam setiap perubahan. Baik dalam cara berfikir, mencipta, kebutuhan, menanggapi,  maupun cara berhubungan dengan orang lain. Kenyataannya, banyak orang “menempatkan diri” dalam setiap perubahan, yang membuatnya menghalalkan segala cara agar dapat menunjukkan eksistensinya dalam setiap perubahan. Contohnya, dunia yang semakin modern, dengan teknologi canggih, budaya konsumeris yang semakin marak, membuat banyak orang tergoda untuk dapat eksis di dunia yang serba canggih dan boros itu. Agar seseorang bisa eksis di dunia yang canggih itu maka cara yang dilakukan adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, mengendalikan orang lain dengan berbagai aturan atau “kebijakan”, hingga mengambil uang atau materi orang lain (korupsi). Munculnya perubahan demi perubahan tidak serta membuat seluruh manusia setuju dengan perubahan itu. Salah satu yang mengkritik isi dari perubahan itu adalah Sujiwo Tejo. Ia pun hadir, mengkritik banyak hal yang menurutnya tidak menghadirkan keadilan bagi masyarakat. Sesudah ia memunculkan istilah dengan sebutan Jancuk, ia memunculkan istilah baru lagi dengan sebutan Ngawurisme. Dalam kedua istilah itu ia pun menjelaskan alasan dari segala ide yang muncul. Penulis mencoba mempraktekkan yang dikatakannya dalam Jancuk pada sebuah komunikasi bersama seorang teman yang berasal dari Jember. Dalam komunikasi yang sangat akrab, aku berkata kepadanya “ayo cari makan cuk” dan “njancuk keren banget karyamu”, ia tidak akan marah. Tetapi jika dalam suatu waktu yang komunikasi sedang kacau atau pun sedang ada masalah dalam pertemanan maka ketika aku berkata “njancuk, aku tidak suka dengan gayamu” maka ia menjawab “koe sing njancuk” sebagai pertanda membalikkan cacian. Dari sini penulis belajar tentang sebuah kata yang sarat makna dan pemakaiannya dalam berbagai konteks dan waktu. Walaupun dengan kesadaran penuh penulis belum sepenuhnya mengerti akan arti kata itu. Bisa jadi karena latarbelakang budaya dan kontekslah membuat kurang bisa memahaminya dengan lebih baik. Tetapi bukan itu yang menjadi intinya walaupun sangat mempengaruhi. Disini penulis melihat berbagai kebenaran yang bisa disetujui dan tidak disetujui orang lain. Kebenaran-kebenaran itu tidak bisa dilepaskan dari budaya yang menggunakannya karena budaya[4] juga turut ambil bagian dalam pola pikir seseorang.

Dalam bukunya yang berjudul “Ngawur karena benar”, penulis melihat sesuatu yang berbeda dari yang lain. Yang membuat penulis tertarik adalah karena ia tidak suka yang biasa. Menurutnya banyak hal yang dianggap biasa, dan pada kenyataannya menjadi sebuah kebiasaan yang teryata sebuah kepalsuan. Oleh Karena itulah dibutuhkan keberanian untuk memunculkan kengawuran yang kadang menyebalkan. Semua itu dilakukannya untuk membongkar segala kemunafikan dan kepalsuan yang mengatasnamakan kebenaran. Ia mengungkapkan bahwa “berani karena benar” sudah tidak spesial lagi dan menggantikannya dengan “ngawur karena benar”. Alasannya, karena jurus-jurus lain yang katanya sistematis, santun dan berbudi pekerti sudah tidak manjur lagi alias mentok. Penyebabnya karena “berani karena benar” itu hanya kedok untuk menutup kepalsuan dnegan tertata, sopan dan bertata karma. Ia menambahkan “ketika semua itu telah menjadi kebiasaan, maka dibutuhkan ngawurisme untuk menghacurkan kepalsuan itu.

Ngawurisme muncul bukan hanya sekedar meramaikan situasi yang sedang “memanas”. Istilah ini muncul sebagai bagian dari keprihatinan melihat situasi yang katanya sudah tertata dengan berbagai aturan ternyata penuh dengan kepalsuan. Ngawurisme memakai cara urakan untuk menyuarakan aspirasi maupun kritikannya. Menurut Sujiwo Tejo, urakan merupakan langkah yang melanggar aturan termasuk aturan berfikir demi mengikuti hati nurani.[5] Walaupun ia urakan, ide-idenya bukanlah hanya untuk sekedar melanggar sebuah aturan melainkan menurut penulis, ia mencoba keluar dari “zona aman” dengan caranya yang sedikit tidak diterima oleh orang-orang yang sudah biasa hidup dalam aturan ataupun “kekakuan dalam berfikir”. Menurut penulis, ini juga merupakan sebuah prinsip yaitu berani keluar dari “zona aman” yang sesungguhnya tidak nyaman. Berani keluar dari kebiasaan aturan yang telah di selimuti kepalsuan. Sujiwo Tejo mengambil contoh dalam kehidupan suami istri. Menurutnya, banyak orang dalam hubungan suami istri lebih senang dengan kata “bohong” daripada “gagal”. Penyebabnya, suami-istri yang gagal kerap dinilai tidak menjaga kehormatan keluarga besar.

“banyak pasangan ngotot dan ngoyo mempertahankan formalitas hubungan suami-istri. Bila perlu dengan berbohong secara apa pun. Semua demi tak disebut gagal berumah-tangga.”[6]

Bohong lebih kejam dari gagal. Mungkin kita pernah mendengar: “bukan kegagalanmu yang aku sesali, tetapi kebohonganmulah yang membuatku kecewa”. Disinilah Sujiwo tejo mencoba menabrak batas normal yang sudah biasa, menjadi kebiasaan, dengan penuh kepalsuan. Contoh lain dari ngawurisme adalah ketika adanya gerakan sejuta Facebooker untuk mendukung Bibit dan Chandra, gerakan nyaris semiliar koin buat Prita, dan meratanya demo nasalah kasus Bank Century. Perubahan moral yang tidak sesuai dengan suatu masa membangkitkan gairah manusia untuk mendobrak aturan yang ada untuk mewujudkan sebuah keadilan. Jelas, cara itu tidak ada dalam aturan Negara maupun yang disepakati komunitas. Ngawurisme muncul bukan dari kebenaran-kebenaran abstrak maupun kebenaran yang telah disepakati oleh segelintir peguasa. Ngawurisme hadir dari kenyataan yang dirasakan oleh masyarakat sehingga memunculkan “pemberontakan” atas segala yang katanya melindungi ternyata penuh kepalsuan. Manusia tidak terlalu mengindahkan segala aturan dan tata cara lagi. Cara lain, yang disebutnya ngawurisme hadir sebagai bentuk kekuatan masyarakat untuk keluar dari kepalsuan. Kekuatan untuk membuang kepalsuan itu bukan berasal dari luar melainkan dari energi internal, masyarakat itu sendiri.

Banyak hal yang dapat direnungkan dari ngawurisme ini. Salah satunya adalah pentingnya berfikir kritis terhadap segala situasi yang ada, aturan maupun “kebijakan”. Semua itu dilakukan bukan dalam rangka “mengotak-ngatik” sebuah kebijakan tanpa alasan, bukan juga bentuk provokasi yang tidak mendasar. Tetapi berani mengungkapkan kebenaran adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan setiap insan (baca: kader). Dengan keyakinan itulah kita harus tetap menjunjung integritas untuk mewujudkan sebuah perubahan dari aturan-aturan yang tidak “sehat” ke arah yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi. Apa hubungannya dengan gereja dan kader?

Gereja merupakan persekutuan umat beriman yang bersama-sama menjaga tatanan moral demi terwujudkan damai sejahtera. Tatanan moral itu di dasarkan pada Yesus yang mengajarkan cara bertingkah laku. Tetapi seringkali aturan atau kebiasaan moral itu hanya sebatas kebiasaan yang harus dilakukan gereja. Bukan karena panggilannya tetapi lebih kepada sebuah kesepakan agar terlihat identitas gereja. Apakah semua itu murni? Tentu sulit untuk menjawabnya. Jika melihat dari pengalaman penulis, banyak ajaran moral itu hanya sebatas ajaran yang tidak “mendarat”. Salah satu penyebabnya adalah pengajaran kebenaran-kebenaran yang abstrak yang tidak sungguh-sungguh menyentuh hati dan pikiran jemaat. Kadang kala seorang pendeta “kurang berani” merefleksikan firman dengan kenyataan kehidupan bergereja, yang kemudian mengutarakannya kepada jemaat. Mengapa? Banyak yang takut melanggar tata moral, dan takut akan konsekuensi dari perkataannya.

Sesungguhnya tidak sulit untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh Sujiwo Tejo. Seorang teolog seharusnya sudah dapat berfikir kritis atas setiap pergumulan dirinya dan jemaat. Jadi menurut penulis masalahnya bukan hanya berfikir kritis, melainkan adanya ketakutan akan konsekuensi dari pemikiran yang kritis itu. ketakutan para pendeta “melanggar” sebuah aturan bukan semata-mata karena takut keluar dari zona aman melainkan yang ditakuti adalah akibat-akibat dari keberanian berfikir kritis. Seorang kader seharusnya di bentuk menjadi hamba yang “bebas”. Dalam artian bahwa segala tingkah lakunya harus terus menuju tingkah laku yang ditunjukkan oleh Yesus sang pembebas. Dalam konteks ini, penulis juga melihat bahwa Yesus juga melakukan kengawuran dalam kesehariannya. Ia disebut ngawur oleh orang-orang disekitarnya. Mulai dari orang-orang Yahudi hingga murid-murid yang selalu bersamanya. Ia berani membongkar kepalsuan dari segala aturan yang dibuat/disepakati sebagian  masyarakat. Ketika orang-orang sepakat untuk tidak melayani di hari sabat, Yesus “menabrak” aturan itu. Ketika orang-orang mencibir pemungut cukai dan perempuan sundal, Ia datang dan melakukan perjamuan di rumah Zakheus.  Ketika kebenaran itu tidak sungguh-sungguh sebuah kebenaran, Yesus muncul dalam realita dan menggoncangkan kepalsuan itu. Apa konsekuensinya? Ia di caci, hingga dibunuh. Seperti ini jugalah yang seringkali bergejolak dalam hati seorang gembala di gereja. Konsekuensi yang sangat sangat berat bagi seorang manusia yang rapuh. Ketidakberanian membongkar kepalsuan itu mengakibatkan para gembala seperti kerbau yang hidungnya ditusuk. Mengikuti segala aturan yang kadakala hati nurati berontak. Menjadi seorang pendeta yang “manis di bibir” bukanlah hamba yang diinginkan Yesus. Menjadi pendeta yang “keras bersuara” tanpa dasar juga bukan hamba yang diinginkan Yesus. Menjadi pendeta yang penuh kepalsuan dalam aturan yang palsu bukanlah hamba yang diinginkan Yesus. Ia ingin agar pengikutNya bisa “bebas”. Bebas mengabarkan kabar baik dari Tuhan. Disinilah dibutuhkan integritas seorang hamba. Sekali lagi, itu bukan hal yang mudah karena banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan. Ngawurisme hanya salah satu cara berfikir ala Sujiwo tejo. Tetapi hendaknya para kader mengerti tujuan panggilannya agar tidak hanyut menjadi seorang yang penuh kepalsuan ditengah-tengah aturan dan kekuasaan. Ada ketakutan dalam diri penulis, pada suatu saat, Yesus berkata kepada para kader: “(Yoh. 6:67) Apakah kamu tidak mau pergi juga?”[7]

Salam dari Yogyakarta
BBL



[1]   Ini adalah istilah terbaru dari Sujiwo Tejo. Sebelumnya ia membuat istilah Njancuk. Sujiwo tejo, Ngawur Karena Benar, Depok: Umania, 2012.
[2] Berbicara sesuatu yang tidak ada artinya.
[3] Ed. Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto, Teori-Teori Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 2005.
[4] Penulis mengambil pengertian kebudayaan (culture) dari pengamatan Raymond Williams yang diterapkan secara luas untuk pengembangan akal budi manusia dan sikap-perlaku pribadi lewat pembelajaran. Kemudian berkembang  menjadi sebuah pemahaman seseorang disebut berbudaya atau tidak berbudaya. Juga seperti yang dikatakan Kroeber sebagai defenisi normative: budaya adalah aturan  atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan konkret. Dalam Teori-Teori Kebudayaan.
[5] Menurut KBBI, urakan berarti berlaku atau bertindak seperti tidak ada aturan maupun bertingkah laku kurang sopan atau seenaknya. Kurang ajar berarti tidak sopan, tidak tahu sopan santun. Menurut Sujiwo Tejo, kurang ajar merupakan langkah seseorang yang melanggar aturan hanya demi melanggar.
[6] Sujiwo tejo,  Ngawur Karena Benar, Depok: Umania, 2012.

[7] Konteks: Yesus mengajarkan tentang Roti Hidup, tetapi orang Yahudi dan para murid tidak bisa menerima ajaran itu sehingga banyak orang yang undur dari tempat itu. Yesus tidak ingin memiliki murid yang “melempem” dan tidak percaya akan kekuatan Yesus, sehingga ia bertanya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Sebagai bentuk teguran sekaligus menantang kesetiaan para murid. 

Jumat, 12 Oktober 2012

SUKACITA MELAYANI?[1]

Ungkapan “sukacita melayani” sering kita dengarkan di gereja. Sepintas, orang-orang mengucapkan ungkapan ini dengan nada yang positif. Namun, kalau dilihat dengan lebih teliti, maka akan tampak bahwa ungkapan tersebut lebih sering merupakan “lip service” ketimbang keyakinan yang kebenarannya dihayati di dalam sikap hidup dan tindakan. Patutlah kita bertanya dengan tulus: benarkah ada yang disebut “sukacita melayani” itu? Seandainya memang benar ada, lantas mengapa rasa-rasanya sulit sekali menemukan orang-orang yang mau melayani di gereja? Mengapa sulit sekali menemukan orang-orang yang mau menjadi penatua atau pengurus komisi atau panitia kegiatan-kegiatan gerejawi? Atau perhatikanlah bagaimana reaksi orang-orang yang pernah mengambil bagian dalam pelayan gerejawi, entah sebagai penatua, pengurus komisi atau bahkan pendeta sekalipun. Berapa banyak di antara mereka yang menghela nafas panjang, tanda kelegaan, ketika masa jabatannya telah berakhir?

Orang di gereja suka mengatakan tentang “sukacita me-layani”, namun dalam praktik saya menyaksikan mereka lebih “suka di-layani”. Perhatikanlah bagaimana jemaat sering menuntut  penatua di dalam membuat dan melaksanakan progam-program gerejawi. Tuntutan tersebut lebih sering berkaitan dengan kepuasan dan kesenangan pribadi ketimbang peningkatan kualitas pelayanan itu sendiri. Jemaat cenderung merasa berhak untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik. Tidak hanya itu, tuntutan mereka juga kental dengan nafsu konsumtif.  Tidak heran, kalau pada akhirnya pelayanan keluar (diakonia) sangat minim. Mereka melupakan bahwa sebenarnya mereka semua juga turut dipanggil untuk melayani di tengah-tengah dunia sebagai tanda nyata cinta kasih Allah bagi segala makhluk. Selain itu, perhatikanlah pula pola tingkah para pelayan gerejawi. Kalau jemaat menuntut penatua untuk melayani, pada gilirannya penatua menuntut pendeta dan pengurus komisi untuk melayani, akhirnya pendeta dan pengurus komisi menuntut  karyawan gereja untuk melayani. Di dalam suasana tuntut-menuntut seperti ini, sama sekali tidak terasa sukacita. Yang ada hanyalah beban yang menyesakkan. Dengan mulut, orang suka mengatakan tentang “sukacita me-layani”, namun dalam praktik, pemahaman dan penghayatan yang operatif adalah “sukacita di-layani”. Memang, rasa-rasanya ungkapan “sukacita di-layani” lebih masuk akal ketimbang “sukacita me-layani”. Siapa sih yang tidak senang di-layani? Siapa pula yang mau me-layani?     

Jika demikian, sebenarnya banyak orang di gereja yang tidak memahami dengan baik makna ungkapan “sukacita melayani”. Kalau paham saja tidak, lalu bagaimana mereka hendak menghayati dan melakukannya? Itulah sebabnya, saya menduga bahwa mereka yang suka mengatakan ungkapan tersebut, sangat mungkin mereka itu orang yang “latah” alias ikut-ikutan.[2]  Namun, sekaligus kenyataan ini menuntut kita untuk menegaskan kembali makna ungkapan “sukacita melayani”. Jika tidak, jangan-jangan kita juga termasuk orang yang “latah”.

Saya meyakini bahwa ada kebenaran yang terkandung di dalam ungkapan “sukacita melayani”. Kebenaran tersebut tampaknya tidak lagi familiar bahkan cenderung ditolak oleh masyarakat yang telah dirasuki oleh budaya konsumtif yang akut. Di tengah-tengah masyarakat semacam ini orang cenderung merasa senang ketika di-layani dan mengeluh ketika me-layani. Pada titik ini, perspektif iman Kristen memberikan sebuah pandangan tandingan, yakni bahwa sukacita lebih dari sekedar kesenangan pribadi[3] dan bahwa sukacita tidak mustahil terjadi di tengah-tengah keluhan dan penderitaan hidup.[4] Perspektif ini sebenarnya bukan suatu hal yang asing bagi pengalaman keseharian kita. Orang yang melayani dengan sukacita memang ada. Perhatikanlah, orang yang mau repot-repot membelikan hadiah untuk kekasihnya. Atau perhatikanlah orang tua yang mau repot-repot merawat dan mengasuh anaknya. Mereka mau repot-repot untuk “melayani” demi orang-orang  yang mereka kasihi. Tidak hanya itu, mereka juga melakukannya dengan sukacita. Mungkin ada saat-saat di mana mereka mengeluh, tetapi itu tidak serta-merta berarti sukacita mereka telah lenyap. Sebaliknya, di tengah-tengah keluh-kesah yang mendera, sesekali mereka masih bisa tersenyum. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tidak lain karena cinta kasih yang sedang memenuhi hidup mereka. Orang yang hidupnya dipenuhi dengan cinta kasih secara alamiah berusaha memberikan yang terbaik kepada yang lain. Lebih jauh, ia juga bersukacita ketika dapat memberikan yang terbaik kepada yang lain.   

Jadi, “sukacita melayani” itu (hanya) mungkin ketika hidup kita dipenuhi dengan cinta kasih. Ini merupakan pemahaman yang mendasar di dalam pelayanan kristiani. Pemahaman ini mencegah kita untuk mereduksi makna pelayanan sekedar sebagai salah satu kegiatan gerejawi yang harus dilakukan.  Lebih lanjut, pemahaman ini juga menegaskan bahwa pelayanan lahir dari hidup yang dipenuhi dengan cinta kasih. Di sini, spiritualitas sang pelayan merupakan hal yang esensial. Seorang pelayan yang baik senantiasa membangun relasi dengan Tuhan, Sang Sumber Cinta Kasih yang sejati.  Hanya dengan demikian, hidupnya dipenuhi dengan cinta kasih yang akan memampukannya untuk melayani sesama dengan sukacita. Tertulis, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (I Yohanes 4:19)



[1] Ide tulisan ini saya kembangkan dari renungan yang saya sampaikan di acara perjamuan kasih sekaligus perpisahan saya dengan GKI Nusukan Pos Jemaat Mojosongo, Solo pada tanggal 27 September 2012.    
[2] Semua hal yang saya paparkan sejauh ini tentulah lebih merupakan hasil dari pengalaman pribadi yang subjektif dan generalisasi (yang berlebihan).
[3] Bnd. Kontras yang dipaparkan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Rasul Paulus mengatakan bahwa “pesta pora” merupakan salah satu perbuatan daging, sedang “sukacita” merupakan salah satu buah Roh (Galatia 5:21, 22).
[4] Bnd. I Tesalonika 1:6

Senin, 01 Oktober 2012

Corat-coret di penghujung masa praktik....



Hal yang paling mengesankan bagiku di setiap pengujung masa praktik di jemaat adalah ketika berjumpa dengan mereka yang secara ekonomi tergolong kurang mampu, namun begitu memperhatikanku. Hal ini bukan kualami sekali saja, tapi kualami berkali-kali. Dalam tulisan ini, aku akan menceritakan dua pengalamanku berkaitan dengan hal ini. Anggaplah ini hanya sekadar corat-coret di akhir masa praktik.
Beberapa bulan lalu, saat aku mengakhiri masa praktek di Surabaya, hadiah pertama yang kudapatkan adalah dari seorang nenek tua renta yang tidak punya rumah. Dia menelepon HP-ku dari telepon umum dan mengatakan bahwa ia menitipkan sebuah bingkisan untukku di pos satpam beberapa jam yang lalu. Aku turun dan mengambil hadiah darinya. Dia memberi sebuah taplak yang tampaknya sudah lama ia simpan. Aku tidak menilai barangnya, tapi aku sangat tersentuh dengan apa yang ia lakukan. Aku tahu tidak mudah baginya untuk pergi ke gereja dan menitipkan kado itu untukku. Dia harus berjalan sangat jauh dari rumah kosnya dengan kondisi kaki yang pincang.
Pagi ini, di penghujung masa praktikku di Temanggung, seorang laki-laki tua, datang ke tempat tinggalku. Dia rupanya sudah mencari saya sejak hari Minggu yang lalu, namun ia tidak dapat menjumpaiku. Dia sudah memperhatikanku sejak saya pertama datang ke sini. Dia datang membawa sebuah bungkusan. Dari bungkusnya, aku menebak bahwa yang ia ingin berikan adalah sebuah buku. Dia berkata, “Aku memberikan ini karena aku tahu gembala kecil ini senang membeli buku”. Aku terenyuh karena dia ternyata tahu bahwa aku sangat suka mengoleksi buku. Padahal intensitas pertemuanku dengannya tidak terlalu sering. Dalam keterbatasannya, dia menyisihkan uangnya untuk membelikan sebuah buku untukku.
Mungkin akan ada pengalaman-pengalaman lain seperti ini yang akan menyusul (pe-de banget deh gw!). Namun, bagiku pengalaman-pengalaman ini mengingatkanku akan dua hal. Pertama, perhatikanlah mereka yang benar-benar membutuhkan uluran tangan kita. Sejauh mana program-program gereja diarahkan pada mereka yang tak mampu. Cintailah mereka dengan segenap hati kita. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka, seperti untuk Tuhan. Kedua, pancarkanlah ketulusan seperti mereka yang telah memancarkan ketulusan di dalam keterbatasannya. Dari mereka jugalah aku belajar tentang arti ketulusan dan kasih. Kiranya para pemimpin juga belajar untuk menjadi pemimpin yang tulus dan penuh kasih seperti mereka. Jangan menjadi pemimpin yang memiliki hati zombie dan bertangan besi. Hehehehehe....
emsiseyar

Selasa, 25 September 2012

Memperlebar Kerajaan Allah?

 “Kiranya persembahan ini.....
.... dapat digunakan untuk memperlebar Kerajaan-Mu....
...Amin.”
Pernah mendengar doa semacam ini? Saya sering mendengar doa semacam ini diucapkan pada saat doa persembahan. Dengan malu-malu, perlu saya akui bahwa saya dulu juga mengucapkan doa semacam itu.
Oleh karena itu, pertama-tama tulisan ini ditulis sebagai sebuah seni menertawakan diri sendiri, seraya mengingat apa yang dilakukan oleh Alm. Gus Dur yang senantiasa mengasah kemampuannya untuk menertawakan dirinya sendiri. Dengan menertawakan diri sendiri kita akan menjadi lebih bijak dalam melangkah ke depan. Tanpa kemampuan menertawakan diri sendiri, kita akan terpenjara dalam kesombongan diri sehingga tidak akan ada kemajuan yang dicapai.
Kedua, tulisan ini ditulis sebagai sebuah catatan kritis atas percikan “teologi popular”[1] yang berkembang di ranah jemaat. Perlu diakui bahwa teologi popular tidak selamanya buruk. Yang saya kritisi di sini adalah teologi popular tentang Kerajaan Allah yang sifatnya sporadis dan memberikan dampak buruk dalam cara pandang umat terhadap misi Allah. Tulisan ini hanyalah sebuah trigger dan belum menjadi kajian yang mendalam. Oleh karena itu, saya mendorong pembaca (dan diri saya!) untuk melakukan kajian yang lebih mendalam atas percikan pemikiran ini. J

Menertawakan Diri Sendiri: Apakah Aku Pendoa yang Latah?
Saya pernah membuat semacam observasi kecil-kecilan pada para katekisan yang saya ajar. Saya meminta mereka untuk menuliskan doa persembahan. Yang menarik dari riset kecil-kecilan ini adalah isi doanya relatif serupa. Ada unsur ucapan syukur dan juga permohonan kepada Tuhan agar mereka dapat menggunakan uang persembahan tersebut untuk pelebaran Kerajaan Allah.
            Setelah membaca doa itu, saya bertanya pada mereka. Apa maksudnya “pelebaran Kerajaan Allah”? Mengapa mereka mengucapkan kalimat itu? Jawaban para katekisan beragam. Anggaplah jawaban-jawaban ini merupakan sebuah potret saja, bukan representasi dari seluruh jawaban umat.
            Ada katekisan yang berkata bahwa ia sebenarnya tidak mengerti apa yang ia ucapkan dalam doa itu. Ia tidak mengerti makna “pelebaran Kerajaan Allah”. Ia hanya menuliskan dan mengucapkan apa yang biasa ia dengar saat ibadah minggu. Saya tersenyum --seraya menertawakan diri sendiri-- ketika mendengar jawaban ini karena saya pun dulu begitu. Kita terjebak dalam pola latah berdoa. Doa sudah menjadi hafalan dan latahan yang tidak keluar dari pergumulan batin, tanpa pemaknaan yang mendalam. Mimikri tanpa refleksi menjadi kalimat kunci dalam sikap latah berdoa ini.

Mempertimbangkan Ulang Konsep (Pelebaran) Kerajaan Allah
            Di samping orang yang latah berdoa, ada juga katekisan yang memiliki mental kolonial. Dia memaknai “pelebaran Kerajaan Allah” sebagai suatu upaya untuk mengkristenkan dunia ini. Kerajaan Allah dimaknai sebagai gereja dan atau denominasi gereja tertentu. Pemahaman seperti ini dapat berdampak pada mentalitas pekabaran Injil yang merujuk pada ekspansi. Menurut saya, kita harus mengkaji ulang pemahaman tentang Kerajaan Allah itu.
Menurut saya, konsep Kerajaan Allah tidak dapat diidentikan dengan gereja, walaupun keduanya memiliki keterkaitan. Kerajaan Allah tidak sama dengan gereja. Pengidentikan konsep Kerajaan Allah dengan gereja berekses pada sebuah pemahaman extra ecclesiam nula salus (di luar gereja tidak ada keselamatan). Pemahaman semacam ini, menurut saya merupakan warisan dari superioritas kekristenan yang memuncak pada masa kolonial dengan semboyan 3G (Gold, Glory, Gospel).
Dengan meminjam pemikiran Focault tentang konstruksi sudut pandang historis oleh penguasa.untuk tujuan tertentu, saya menduga-duga bahwa cara pandang tentang pelebaran kerajaan Allah adalah warisan historis zaman kolonial yang kita telan mentah-mentah. Tidak ada proses perenungan ulang dan pendedahan terhadap makna doa yang menjadi hafalan itu.
Oleh karena itu, marilah kita mempertimbangkan ulang konsep Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah bukanlah sebuah wilayah yang dapat dipersempit atau diperlebar. M. Amaladoss, dalam Meniti Kalam Kerukunan, mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah lingkungan kehadiran Allah. Bagi saya, Allah tidak hanya hadir di dalam dinding gereja. Allah hadir dalam dunia ini. Dengan demikian, memperlebar dunia adalah suatu hal yang absurd.
Kerajaan Allah dapat dipahami juga sebagai realitas eskatologis yang sudah hadir dan akan digenapi nantinya (Markus 9:1). Kerajaan Allah bukanlah sebuah realitas yang jauh di awang-awang. Kerajaan Allah sudah hadir melalui Kristus yang menghadirkan keadilan, kedamaian dan keutuhan ciptaan. Oleh karena itu, kita juga tidak boleh terjebak dalam khayalan masa depan tanpa berbuat apa-apa. Kita harus berbuat sesuatu seraya menanti-nantikan pemenuhannya.
Pusat pelayanan gereja adalah turut membangun Kerajaan Allah, bukan memperluas! Kerajaan Allah ada di dunia ini sehingga jangkar pelayanan misi gereja adalah pada pelayanan terhadap dunia ini. Oleh karena itu dalam refleksi singkat ini saya mengajak untuk menelisik ulang doa kita. Mungkinkah kita memperlebar Kerajaan Allah (baca: dunia)? Saya rasa tidak. .


26 September 2012
emsiseyar


[1] Terminologi teologi popular saya pinjam dari terminologi yang dipakai saat Konven Pendeta GKI Klasis Jakarta Barat tahun 2010.  Teologi popular didefinisikan sebagai pemikiran teologi yang sporadis (terlepas satu sama lainnya) dan kontraktual (terikat demi tujuan atau kepentingan tertentu). Teologi popular dapat ditemukan dalam berbagai doa-doa yang diucapkan jemaat, pemikiran umat pada saat rapat, dan lain sebagainya.